Kuntilanak Kampung

Kunti berkiprah, suraranya merdu berkibar. Kiranya dia telah lama dikerangkeng. Dunia religi dilahapnya, sekularisme dibabatnya. Ia sehat jasmani dan rohani. Merdu suara, atletis bodi tampilannya. Sopan berbusana hingga bergaya ketika mengangkat langkah bahkan duduk bersila ramah.

Ketika Kunti membuka mulut, aliran kata bagai sungai bersumber danau tergenang. Ia menghipnotis burung bersarang di dahan pepohonan. Dedaunan pun bagai hendak terus menghijau tak sudi menguning layu dan kering. Rerumputan bagai hendak berbaring sebentar saja pun tiada rasa untuk memulainya. Jangkrik, cacing dan tikus tak hendak menggali lubang bersarang. Capung, kupu-kupu dan lebah bagai enggan kembali ke sarangnya.

“Kunti … Kunti … Kunti … !” tokoh bergelar akademik mencengangkan dan sebutan agamis alim nan saleh kesohor. Dimana dia berada di sudut kampung, menyemut lagi berlebahgantung kaum merebak rebut duduk terdepan. Takjub berkeheranan tiada tara. Bengong binti bingung kaum papa tak terpelajar di bibir panggung kecemasan ketika para pemuka tertawa dan bertepuk

Ketika Kunti melangkah, tatapan dan sorot matanya tajam bening tak bernoktah, beraroma karsa berkarya. Tangannya menyapa lambai belaka. Menyapa salam cukuplah di ujung jemari agar kesalehan tak ternodakan kaum najis pelanggar hukum-hukum keagamaan.

“Kunti… Kunti … Kunti … !” dikagumi selat dan tanjung hingga daratan.

Ketika Kunti menyodorkan tongkatnya, kata bertuah berjembatan padanya. Pengemis mendekat menjamah ujung tongkat berharap mendapatkan berkah sedekah dari dermawan saleh. Tawa kaum bergigi emas diderai sambil menjulur lidah menggoyang badan. Sementara kaum papa terpaksa turut menggemakan dan melambungkan dogma bertuah di cakrawala keagungan Kunti dan para pesohor bawaannya.

“Kunti … Kunti … Kunti …!” bebukitan hingga gunung batu bagai hendak menunduk padanya.

Hari telah berlalu, Kunti makin kencang larinya di darat, makin kencang moncong di samudra membelah ombak gelombang. Makin tajam menusuk langit berawan hitam bermuatan listrik tegangan tinggi. Menembus langit berlangit, daratan berhutan dan berpadang sabana, bukit gundul dan gunung berbatu.

Kunti, idola dan pujaan.

Dalam istirahatnya, Kunti menegakkan jidat dalam judi kesalehan. Kunti hendak terbang dengan sayap fajarnya ketika aroma pesit terbawa angin pantai. Kunti merayap di lobang tikus bersua cacing dan jangkrik, ketika menuju sarang burung, di sana ada capung dan lebah menyapa.

Kunti memilih metamorfosis, Kuntilanak Kampung. Lengking suaranya menusuk lubang pendengaran tak lagi merinding bulu kuduk.

by: Heronimus Bani

tayang juga di: ronibaniblog.home.blog