Ingatan masa kecil melalui sebentuk Piring

Piring (Klasik)

Ingatan Masa Kecil melalui sebentuk Piring

Hari ini (30/11/19), sepulangnya dari sekolah, saya mampir di satu keluarga kecil di kampung kecil sedesa, tapi berjarak 2 km sebelum masuk ke kota desa dimana saya tinggal. Nama kampung kecil ini, Naet. Di sana ada satu keluarga kecil dan sejumlah keluarga-keluarga saya ada di sana. Sehari sebelumnya saya membantu mereka mengurus satu permasalahan yang ada hubungannya dengan adat perkawinan, yang semestinya sudah terjadi pada puluhan tahun yang lalu, namun baru dapat diselesaikan pada masa ini oleh anak-anak dari pasangan suami-isteri yang sudah almarhum/mah.

Ketika mampir itulah, mereka menyuguhkan makan siang sebagai tanda dan rasa sayang pada saya sebagai yang dituakan, walau saya lebih sadar bahwa itu kebiasaan umum di pedesaan Timor. Bila ada tamu, akan disuguhi mamah sirih-pinang, minum teh/kopi (atau tuak/sopi), atau makan yang disebutkan sebagai ala kadarnya.

Saya terkejut, ketika di meja makan piring yang ditempatkan di sana adalah seperti yang nampak pada gambar ini, saya langsung bersuara, “Wah, masih ada piring ini di sini?”

Anggota keluarga saya ini pun tersenyum dan memberi jawaban, “Mama masih simpan, walaupun mama sudah tidak ada, kami masih simpan, karena ini punya cerita tentang kita waktu kecil di gereja.”

Benar. Piring-piring ini mengingatkan kami akan masa kecil. Bunga piring itu langsung mengingatkan saya dan orang-orang seumuran saya dan sekampung pada hari-hari ini. Saya yang sudah di atas 50 tahun ini dan mereka yang berumur 60-70 tahun akan ingat bunga piring ini.

Rerata kami mempunyai piring dengan bunga seperti ini antara tahun 1970 – jika masih ada sekarang. Mengapa?

Masa itu, kami anak-anak sekolah minggu membawa persembahan berupa uang kolekter ketika masuk sekolah minggu. Di samping persembahan kolekte, ada pula tabungan sekolah minggu. Nilai yang diberikan sebagai tabungan mulai dari Rp5, Rp10 Rp50, Rp100

Hanya orang-orang mampu saja seperti para pedagang yang disebut papalele yang mampu membawa nilai Rp50 atau Rp100. Rerata kami membawa Rp5 atau Rp10, itupun tidak setiap minggu.

Setiap hari Minggu, anak-anak SM bergembira sekali karena sekali seminggu bertemu teman-teman di SM dan bernyanyi, membaca alkitab, bercerita, hingga bermain bersama di halaman sempit di samping rumah gereja yang disebut Jemaat Kolam Keselamatan Koro’oto.

Tabungan anak SM akan dihitung pada bulan November. Guru SM akan berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Di sana, ia menitipkan uang dan daftar belanja untuk tiap-tiap anak. Semuanya diamplopkan dengan surat. Titipan itu pada seorang papalele yang terpercaya dari dalam kampung sendiri. Ia akan membawa uang itu dan daftar belanja hadiah ke kota Kupang. Di sana ada siswa/mahasiswa yang sedang akan pulang kampung ketika libur sekolah. Sebelum pulang, mereka dibebani tugas belanja hadiah untuk anak-anak SM.

Desember tiba. Natal, hari raya yang sangat meriah dan ditunggu-tunggu anak-anak dan seluruh warga gereja yang menyebar di banyak kampung. Pada hari natal yang dirayakan pada malam tanggal 25 Desember, selain pentas drama oleh para pemuda kampung Koro’oto, dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada anak-anak SM.

Anak-anak yang datang ke pusat kampung di Koro’oto, harus menempuh perjalanan seharian.Saya sebutkan nama-nama kampung menurut jarak terjauh ke pusat kampung. Darah Timur, Bak’uru, Makuni’, Tutun, Diikuti, Kuanfau,Oemari dan Saikaes. Dari Selatan, Suu’baun dan Tau’reko. Dari Barat, Oepoi dan Nunu’nene’. Dari Utara, Kuareno. Dan dari dalam kampung besar Koro’oto sendiri selain sebagai pusat kehidupan beragama kuno dan modern, juga pusat pemerintahan adat.

Sekali peristiwa kali di belakang gereja banjir. Dua orang anak yang mencoba menyeberang justru terbawa arus sungai. Saat itu mereka hendak pulang setelah selesai mengikuti sekolah minggu. Singkat cerita, jenazah mereka ditemukan di muara. Kedua jenazah itu dibawa kembali ke kampung besar Koro’oto, dikuburkan di depan rumah Utusan Injil. Kuburan itu masih ada sampai sekarang.
.
Banyak kisah masa kecil dapat dikisahkan setelah melihat piring ini.
Akh… kenangan belaka.

Kembali ke hadiah natal. Di antara hadiah-hadiah itu, didominasi oleh piring dengan bunga seperti ini. Ada yang mendapat satu lusin, ada yang setengah lusin. Ada yang nilai uangnya tidak cukup untuk membeli piring, cukuplah gelas setengah lusin. Di antaranya anak SM yang nilai rupiahnya besar, dibelikan hadiah yang mewah seperti sepatu atau bahkan radio kecil, atau radio tape recorder.

Itulah kenangan masa kecil saya antara tahun 1970 – 1975. Sesudah tahun 1975, kampung mulai dibongkar untuk dipindahkan. Kenangan itu masih tergambar di benak sampai sekarang.

Terima kasih Tuhan. Masih ada satu lembar piring yang saya lihat hari ini. Piring itu mengingatkan saya tentang persaudaraan kami anak-anak Koro’oto di kampung Koro’oto.

 

Koro’oto, 30 November 2019

Penulis: Heronimus Bani