Lu Bawa Ole-Ole Apa kasi Yesus di Dia pung Hari Lahir?

screen shoot dari Youtube

Lu Bawa Ole-Ole Apa Kasi Yesus di Dia pung Hari Lahir?

Carita di Pintu Masuk

Sengaja saya menggunakan teks berbahasa Melayu Kupang di judul, biar agak local begitu. Ceritanya, saya mau baca dari teks alkitab berbahasa Amarasi terjemahan UBB GMIT Kupang. Semua yang membaca alkitab, pasti ingat cerita Matius 2:1-12; cerita tentang orang Majus dari Timur yang menempuh perjalanan jauh agar dapat bertemu dengan seorang Manusia Istimewa yang tanda kelahirannya terlihat pada bintang.

Akhir dari cerita itu sungguh mengharukan. Mereka bertemu dengan Yesus, Manusia Istimewa itu bersama orang tuanya, Maria dan Yusuf/Yoseph, lalu mereka memberikan persembahan berupa mas, kemenyan dan mur. Teks pada ayat ini (2:11) dalam bahasa Amarasi disebutkan sebagai berikut, … sin nfeen noni mnatu’, kemenyaan, ma hau oef foo meni’. Nah, kemenyan tidak ada dalam budaya orang Amarasi, makanya diadopsilah kata itu.

Sekarang saya hendak bertanya, apakah orang di Nusa Tenggara Timur yang mayoritas memeluk agama Kristen (Katolik dan Protestan) sudah merayakan Hari Lahir Yesus dengan memberi hadiah (baca: ole-ole) yang khas orang NTT?

 

Cerita di Dalam Rumah NTT

Mari membayangkan Nusa Tenggara Timur pada etnis yang memiliki kebiasaan yang sudah mentradisi, dan tradisi yang sudah membudaya. Ketika kekristenan tiba baik yang dibawa oleh para misionaris Katolik yang berasal dari Portugis maupun para zending berkebangsaan Belanda, mereka telah menebar kasih yang Kristus ajarkan. Sayangnya, kemudian masyarakat kita “keluar” dari kebiasaan.

Tengok hari-hari kemarin dan juga hari ini. Suasana dan nuansa menyambut natal diwarnai sesuatu yang “bukan milik” kita. Mengapa? Pohon natal dengan ornament yang khas western seakan sudah menjadi kaum Kristiani/Nasrani. Maka, tidak heran ketika kaum Kristen/Nasrani merayakan natal selalu ornament dengan warna hijau, merah, dan putih mewarnai hiasan-hiasan di rumah-rumah, hingga jalanan dan Gedung gereja.

Sinterklas (Santa Claus atau) yang budaya Eropa dibawa masuk ke dalam budaya NTT yang membuat kita bukan menjadi diri sendiri, tetapi menjadi orang lain. Kaum Kristen/Nasrani di NTT menyambut kelahiran Yesus dengan gaya Eropa. Bukankah ada kekhasan pada kita?

Mari kita lihat cerita di pintu masuk. Ketiga Majus dari Timur membawa sesuatu yang khas dari mereka. Mereka bertemu Yesus di tempat yang khas, yang tidak terlalu istimewa, padahal yang lahir Bayi Istimewa, Manusia Istimewa.

Bagaimana kalau kaum Kristen/Nasrani NTT membawa hal-hal seperti ini pada Yesus ketika masuk pada perayaan Hari Kelahiran-Nya?

  1. Masyarakat Flores pada umumnya; budaya memberi gading sebagai yang termahal, ragam tenunan, dan kidung-kidung pujian dalam ziarah umat. Bila harus menempuh perjalanan, mereka akan membawa ketiga hal ini dengan berkendaraan darat, atau berkedaraan air, menyeberangi selat hingga tiba di “kandang” kelahiran Manusia Istimewa, Yesus itu. Di sana mereka akan memadahkan kidung-kidung indah, sambil membentang ragam tenunan dan meletakkan gading gajah bermartabat di kaki-Nya. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus. Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas Flores.
  2. Masyarakat Kepulauan Alor. Semua orang ada dalam pengetahuan bahwa ada beragam etnis di Kepulauan Alor. Itu sebabnya mereka tidak dapat berkomunikasi dengan Bahasa daerah masing-masing, kecuali Bahasa Melayu Alor yang mirip Melayu Kupang, Melayu Ende, Melayu Ambon, dan Melayu Papua. Kemiripan berbahasa Melayu menjadikan ragam etnis di Kepulauan Alor dapat bersatu untuk menyambut kelahiran Yesus dengan membawa, moko, kenari, dan jagung titi. Mereka akan mendaki bukit, menuruni lereng, menyeberang selat dengan bersampan hingga tiba di “kandang” kelahiran Manusia Istimewa, Yesus. Ketika tiba mereka akan menarikan tari perang dengan iringan gong bertalu sambil memainkan busur-panah. Moko diletakkan, di atasnya kenari dan jagung titi terbaik dipersembahkan di sana. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus. Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas  Kepulauan Alor.
  3. Masyarakat Sumba yang dikenal dengan negeri terindah pada decade ini. Di sana kuda, ragam tenunan, dan mamuli. Tiga hal yang tidak dapat dilepaspisahkan dari mereka dalam tindak budaya. Mereka akan menjelajahi padang-padang sabana mengikuti petunjuk bintang. Ketika malam mereka akan beristirahat menjaga ternak-ternak mereka agar terhindar dari pencurian bergerombol. Sekalipun mereka harus bermandikan embun di padang-padang sabana itu, mereka akan tiba di “kandang” kelahiran Manusia Istimewa, yesus. Ketika tiba mereka akan menarikan tari Kataga. Lalu dari atas kuda mereka menurunkan mamuli, membentangkan ragam tenunan yang terindah. Di sana mamuli diletakkan di kaki-Nya Yesus. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus. Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas Sumba.
  4. Etnis Rote-Ndao. Seringkali ada parodi lucu tentang mereka. Otak rote, salah satu di antaranya. Tapi, bukanlah demikian ketika mereka berkeriduan menyambut Manusia Istimewa, Yesus pada hari kelahiran-Nya. Bukankah mereka akan membawa domba, kerajinan tangan (tenunan dan hasil tempaan barang perak), serta olahan nira? Dengan modal kendaraan darat berupa kuda yang dikendalikan ketika hus berlangsung, kuda-kuda terbaik dipelana lalu membawa persembahan kepada-Nya. Tenunan dibentang, di sana diletakkan barang-barang perak hasil tempaan mereka. Selanjutnya domba-domba akan berbaring di sana, layaknya para gembala di Efrata membawa beberapa ekor dalam perjalanan melihat kelahiran itu setelah mendapat kabar dari para malaikat di sorga. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus. Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas Rote-Ndao.
  5. Negeri dengan Deo Rai. Di sana ada Mone Ama yang anggotanya terdiri dari 7 orang. Mereka sangat dihormati. Merekalah yang “dekat” dengan alam, yang oleh karenanya kalender dan romantika kehidupan Do Hawu dimainkan dalam tangan mereka. Ketika mendengar kabar kelahiran Manusia Istimewa, Yesus, mereka pun bergegas ke sana dengan membawa, tikar pandan, gula kental, dan kenoto/kepepe. Ketika tiba di “kandang” itu mereka membentang tikar pandan berpermukaan halus. Lalu diletakkanlah kenoto/kepepe berisi benda-benda berharga, serta ditempatkan di sana belanga berisi gula kental. Mereka pun menyampaikan semua itu pada Manusia Istimewa, Yesus. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus.Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas Sabu/Sawu/Hawu.
  6. Manusia Timor menyebut dirinya, Atoin’ Meto’. Di sana mereka menempati satu pulau besar yang kini telah “terbelah” oleh karena factor politik demi negara berdaulat. Di sana di dalam pulau itu ada ragam Bahasa pun berbeda. Tapi, satu hal yang menjadikan mereka dikenal luas adalah, cendana, madu dan lilin. Ketika mendengar kabar kelahiran Manusia Istimewa, Yesus, mereka meniupkan peluit khas Atoin’ Meto’. Bunyi mendayu-dayu terdengar disambung music daun. Kabar itu sampai di penjuru Timor yang disebut Pah Meto’. Mereka mengambil madu, mengolah lilin, dan mengambil teras cendana. Ketiganya mereka bawa sebagai persembahan kepada Manusia Istimewa, Yesus. Ketika tiba mereka pun melakuan tutur budaya yang disebut, natoni’ atau basan, atau aa’ asramat. Lalu bersujudlah mereka layaknya para majus. Pakaian yang dikenakan indah-indah oleh karena khas  Timor, Atoin’ Meto’

 

Cerita di Pintu Keluar

Akhirnya Hari Kelahiran Yesus yang diperingati masyarakat pengikut-Nya di Nusa Tenggara Timur tampil dengan kekhasan mereka. Mereka meninggalkan topi sinterklas. Mereka menyimpan ornament milik orang lain.

Udara di sekitar beraroma harus cendana. Manis gula dari Sabu dan Rote. Martabat dan kehormatan diwakilkan pada benda-benda berharga, baik berupa produk kerajinan tangan maupun benda purba yang terpelihara. Itulah kekhasan masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya para penganut Kristen/Nasrani ketika menyambut hari Natal, hari Kelahiran Yesus, Junjungan, dan Tuhan yang disembah dan dimuliakan.

Selamat natal saya kirimkan salam ini dari kampung kecil di tengah hutan Sismeni’, Koro’oto.

 

By: Heronimus Bani/anggota Presbiter di Koro’oto

4 Komentar

Komentar ditutup.