Sendunya Gesturmu, Mama!

Sendunya Gesturmu, Mama!
 
Mama, Membayangkan dirimu ragam kenangan terpatri jelas. Hendak kutengok jejak, semestinya dapat kutelisik. Hendak kuajak bercerita, sayangkan bagaimana mungkin? Hingga berlarut pun aku hanya dapat memandang gesturmu.
 
Mama, Kenangan penuh dalam genangan masa. Sesamamu menamaimu si ceriwis manis. Sesamamu dongkol berjongkok mendekatkan rasa. Hingga dapat mengayunkan jemari trampil.
 
Mama, Hari kesukaan para ibu tiba, Aku ditemani longlongan anjing tengah malam. Dan bebunyian merapikan permukaan kayu. Ditingkahi derai tangis penghuni bar dusun pri udik
 
Mama, Hatiku tak teduh melihat sendunya gesturmu. Ingin rasanya memeluk ragamu walau sebentar. Biar teduh kegalauan ini demi timbangan rasa pada mereka. Gaya tak berubah tetap mereka lakoni di bar dusun pri udik itu.
 
Mama Malam telah larut, aku tak tahu bagaimana menyapamu, Apakah aku mesti berkata, “Selamat tidur?” Ataukah aku perlu diam saja?
 
Akh…
 
Barenti su… dong pung baribut lai?
 
A i h, su tenga malam ee,……
 
 
Heronimus Bani Koro’oto, Midnight, 00.00 23 Des 2019.