Satu Januari Benih Dibenam

Satu Januari Benih Dibenam

Satu Januari dua ribu dua puluh sudah dan sedang kita lintasi. Bila menggunakan satuan waktu di jam dinding, tentulah dimulai dari detik pertama hingga jam pertama, dan seterusnya hingga pukul 24.00. Sambil menulis dari apa yang sedang terjadi di sekitar lingkungan saya sore ini, saya masih ingat benih yang ditanamkan pagi tadi. Benih itu digenggam oleh Pdt. Yulita Y. Zina-Lero, S.Th. Dengan gaya yang khas miliknya, ia membenamkan benih di tanah-tanah yang kiranya bukan di jalannan belaka, atau di tanah berbatu dan berduri, tetapi justru di tanah berisi humus agar kelak dapat tumbuh subur.

Benih yang sangat kuat melekat dikatakannya demikian, jangan makan kulit lalu buang isinya. Sesungguhnya bacaan dipilih dan dibacakan dari Pengkhotbah 3:1-15 tentang segala sesuatunya ada waktunya. Benarlah itu, segala sesuatu ada waktunya. Sayangnya, makhluk manusia bukan pencipta waktu. Makhluk manusia hanyalah pengisi waktu itu. Makhluk manusia diberi hikmat, akal budi dan pengetahuan untuk menata waktu. Di antaranya menata waktu untuk hadir dalam persekutuan ibadah.

Benih yang digenggaman sang pendeta dikupas dari bungkusan kulitnya. Layaknya benih jagung yang ditanam pada hari ini oleh para peladang desa-desa di Pah Amarasi ini. Kulit jagung dibuang, tidak dimakan. Padahal dari sana orang mengetahui jagungnya.

Mirip dengan itu, kulit dari waktu yang diciptakan Tuhan dihitung dalam satuan 2020. Isinya mesti yang terpenting, bukan 2020 itu yang terpenting. Dalam hal angka 2020 itu adalah bungkus dari satuan waktu yang sedang berjalan, bergulir dan akan melintas dalam satuan setahun. Menata kulit dan mengisinya dengan isian yang benar adalah sikap dan tindakan yang bijaksana, sebagaimana orang menggali lubang dan membenamkan benih jagung. Benih itu akan tumbuh dalam tiga hari ke depan. Berkecambah dan bertunas, kelihatan di permukaan.

Demikianlah Kristus Yesus Tuhan.  Dialah Benih Istimewa itu. Ia pernah dibenamkan di perut bumi selama 3 hari. Lalu, ia bangkit, bersinar dan menang atas kulit pembungkusnya. Sama seperti waktu dalam satuan satu tahun ini, 2020. Itu kulitnya, isinya mestilah dimulai dari refleksi masa lampau dan menempatkan harapan ke masa depan. Dalam hal ini isinya mestilah berbenih ungguul, maka mulailah dari karakter religius dan sosial. Isilah roh dan jiwa dengan ketuhanan dalam segala aspek-Nya, salah satunya, Firman-Nya. Lalu bergandenganlah dengan sesamamu, dan lihatlah sekelilingmu dimana ada lingkungan alam.

Benih yang ditanam pada satu Januari dua ribu dua puluh, kelak sambil melintasi waktu ini, ada yang akan dipanen oleh karena berumur pendek, tetapi ada yang berumur panjang. Raihlah dan panenlah hasil dari menanam pada titik berangkat ini, mimpikan untuk memetik pada waktunya.

Selamat Tahun Baru 2020.

 

By: Heronimus Bani, Admin