Arsip Kategori: Bahasa Indonesia

Surga itu Idaman Insan Fana

Menuju surga (sorga) tempat idaman setiap insan fana yang beriman, ber-Tuhan. Beriman kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah lahir dalam keluarga yang taat beragama. Bertaqwa kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah memeluk atau berpindah dari agama A ke agama B oleh karena ajaran agama sebelumnya meragukan sehingga keimanan menjadi diragukan. Surga menjadi kabur, kasih kepada sesama kurang nyata atau bahkan tidak dapat menginternalisasikan ke dalam sel, darah, jiwa dan roh dogma agama. Dalam kesadaran-kesadaran seperti itu orang memeluk agama atau berpindah agama. Pada sisi lainnya, ada yang sama sekali tidak sudi beragama sehingga bila membicarakan Tuhan dengan segala hal di sekitarnya termasuk surga (sorga), hanya membuang-buang waktu saja. Padahal, para penganut agama yang fanatis akan begitu merindukan surga, bahkan jika perlu melakukan sesuatu agar segera tiba di surga.

Banyak dan beragam cerita orang baik lisan maupun tulisan tentang “kunjungan” mereka ke surga. Cobalah baca artikel-artikel berikut ini

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3427857/4-orang-ini-terkenal-karena-mengaku-pernah-melihat-surga-dan-neraka

https://www.merdeka.com/jabar/kisah-nabi-idris-mengenai-kematian-dan-saat-pertama-kali-melihat-surga-dan-neraka-kln.html?page=all

Anda, para sahabat yang setia mengunjungi weblog ini dapat saja berselancar ria untuk menemukan artikel-artikel yang ditebar. Guglinglah. Pengetahuanmu akan bertambah sambil Anda harus bijak menyortir manakah yang patut diterima sebagai informasi bersifat pengetahuan yang valid.

Bagaimana surga itu dalam ajaran agama-agama? Agama di dunia sangat banyak dan beragam. Orang Indonesia menerima dan mengakui sedikitnya 6 agama. Semuanya mengajarkan bahwa suatu ketika orang akan tiba di suatu tempat di luar kehidupan diri dan komunitasnya. Tempapt itu amat sangat luar biasa sehingga tak dapat digambarkan dengan kata-kata manusia. Terbatas, tetapi orang rindu melukiskannya bila sudah sempat tiba di sana.

Setiap muslim percaya bahwa semua manusia dilahirkan suci. Surga tertinggi tingkatnya adalah Firdaus (فردوس)—Pardis(پردیس), di mana para nabi dan rasul , syuhada dan orang-orang saleh. Tempat itu menjadi idaman bagi setiap insan penganutnya. Bukankah hal ini sesuatu yang luar biasa bila berada di sana? Siapa yang tidak merindukan untuk hidup bersama para nabi dan rasul atau syuhada yang dikisahkan dalam kitab suci dan tradisi ajaran? (id.wikipedia.org).

Dalam agama Hindu, surga artinya pergi menuju cahaya. Walaupun pergi menuju cahaya, tetapi surga itu sendiri hanya suatu tempat yang bersifat kesenangan sementara. Kesementaraan itu terjadi karena jiwa harus mencapai moksha yakni bersatunya atman (jiwa) dengan Brahman yang kekal. Di sanalah keabadian sesungguhnya (https://www.malangtimes.com/)

Dalam agama Buddha ada ajaran berbeda. Cobalah untuk menengok di sini https://www.kompasiana.com/sudhana/55202820a333110844b65c03/perbandingan-surga-neraka-dalam-islam-buddha-bag-1?

Lantas apa kata penganut atheis? https://kumparan.com/frisa-pangestiko/saya-bertanya-atheis-menjawab/full

Berdebat dengan kaum atheis atau bahkan bidat dalam agama mana pun sangat mungkin untuk segera meninggalkan atau melepas pelukan pada agama. Logika sangat dimainkan sehingga semuanya terasa nyata di depan mata dan dapat dirasakan. Surga bagi kaum atheis ada atau tidak itu hanyalah ilusi kaum lemah dan bodoh yang menganut agama untuk menghibur diri. Mengapa? Karena ketidakadilan di dalam dunia. Ketidakadilan itu bahkan terbawa sampai di suatu lokasi yang sifatnya imajiner yakni surga vesus neraka. Di sana masih ada ketidakadilan, kata kaum atheis.

Jika demikian, mengapa orang mengidolakan tempat yang bernama surga itu? Bahkan untuk mencapai surga ada oknum fanatis agama rela mengorbankan diri untuk segera sampai ke sana. Mereka yang terpapar ajaran radikal agama mengantar jiwa ke surga itu. Mereka bagaikan sudah pernah berkunjung ke sana, lantas kembali hanya untuk mengakhiri jasad atau raganya agar jiwa dan rohnya tiba di sana lebih awal dari rencana semula.

Tidakkah kita menyadarinya? Jika sebagaimana kata kaum atheis bahwa surga versus neraka hanyalah lokasi imajiner, maka sia-sialah kepercayaan kita pada perkataan para nabi dan rasul. Padahal seluruh kaum penganut agama sungguh-sungguh meyakini akan adanya surga, bahkan Yesus, Nabi dan Imam yang sungguh-sungguh Manusia Istimewa pun mengatakannya.

Yesus menyebut suatu tempat dengan menggunakan istilah, Rumah Bapa-Ku, kata-Nya:

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempaat tinggal, Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yoh.14;2-4)

Jika Anda sungguh-sungguh percaya pada perkataan Yesus Sang Manusia Tulen nan Istimewa itu, bukankah pernyataan di atas harus diaminkan? Mengapa ragu atau malah memintakan suatu fakta? Ada kisah lain tentang orang-orang yang menghuni tempat itu. Kisah itu disaksikan oleh Yesus sendiri tentang Abraham, Lazarus yang miskin dan seorang kaya. Abraham sudah berada di suatu tempat dan hidup di sana. Lazarus yang miskin mati, lalu dibawa pergi ke sana oleh malaikat untuk hidup bersama Abraham. Sementara si kaya mati pula dan dibawa malaikat ke suatu tempat yang lain. Ia hidup, tetapi dalam derita berkepanjangan. Kisah ini tertulis dalam Lukas 16:19-31

Dikisahkan bahwa ada suatu jurang yang memisahkan dua tempat kehidupan abadi itu. Nuansa kehidupan abadi pada dua tempat itu berbeda. Satunya untuk mendapatkan setetes air saja dari ujung jari seseorang pun, sangat dan teramat sulit, apalagi ada jurang yang memisahkan sehingga tidak dapat menjangkau mereka yang hidup dalam kesengsaraan kekal itu. Lalu, lokasi yang satunya, di sana orang dapat hidup berdampingan dengan tokoh-tokoh besar di antaranya Abraham, Sahabat Allah, bapak segala orang percaya. Nah, kehidupan seperti itulah yang diharapkan terjadi. Lantas rumah yang dimaksudkan Yesus sebagaimana dicatat Yohanis (14:2-4) itu yakni surga.

Penganut Kristen menerima ajaran yang kiranya padat berisi bahwa untuk tiba di tempat dimana Yesus menyediakannya, lantas di mana Yesus berada, di sanalah pengikut-Nya berada, maka orang harus menyadari, meyakini dan melakukan apa yang Yesus ajarkan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. … .” (Yoh.14:6)

Pernyataan ini sangat sulit diterima kaum manusia. Bagaimana mungkin Yesus Sang Manusia Tulen yang lahir dari satu keluarga sederhana dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan? Tidak logis dan realistis. Kira-kira demikian kata kaum atheis. Tidak mungkin, seorang Manusia yang menerima segala hinaan, olokan, buli, hingga disiksa dan disalibkan, mati dan dikuburkan dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan. Jalan menuju cahaya itu harus jelas,bukan suatu mimpi seperti yang tertulis dalam Kejadian 28:10-22. Ketika Yakob bangun dari tidurnya ia berkata,

“Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya! Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” (Kej.28:16-17)

Tidak rindukah Anda naik-turun tangga itu untuk sampai ke tempat terindah? Di tangga itu pintu gerbang sorga terbuka. Tetapi, apakah Anda harus mempercepat niat untuk tiba di sana dengan cara menghabisi diri raga realistis ini? Tidak, bukan?

Jika demikian, kaum Kristen harus yakini bahwa Yesus mengajarkan tentang Rumah Bapa itu, suatu tempat dimana kehidupan abadi berlangsung. Suasananya tergambarkan seperti Firdaus/Eden baru yang hanya dapat dinikmati bila berada di Jalan Lurusnya, Yesus, Manusia Tulen itu yang rela mati untuk menebus dosa umat manusia. Ia bangkit dari kematian-Nya sebagai kemenangan atas maut. Ia tanpa proklamasi yang menghebohkan dunia, yang membelalakkan mata, mengherankan publik. Ia cukup mengajak para murid-Nya untuk menyaksikan ketika Ia terangkat ke sorga dalam awan.

 

 

Koro’oto, 1 April 2021
Heronimus Bani

 

 

 

Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yak.5:17-18).

Bagian Alkitab yang saya kutip di atas bercerita tentang apa yang pernah dilakukan oleh Elia yang dicatat dalam Kitab 1 Raja-Raja 18:44-45; ketika itu Elia berkata kepada bujangnya,

“Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.”

Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat, Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.

Pembaca yang budiman. Dalam tahun-tahun belakangan ini musim kemarau berkepanjangan menyebabkan siapa pun berkeluh-kesah tentang kesulitan-kesulitan hidup, terutama kekurangan air karena sumber-sumber air menipis hingga mengering, tanaman dan ternak yang mati karena kekurangan air dan banyak masalah sosial terjadi akibat kemarau berkepanjangan. Doa-doa disampaikan kepada Tuhan, sekiranya Ia berkenan menurunkan hujan. Sementara itu sas-sus di sekitar percakapan informal bahwa proyek-proyek besar yang sedang dikerjakan menjadi kendala datangnya hujan. Para pengusaha menggunakan pendekatan tertentu yang dapat mengalihkan awan mendung ke area lain sehingga hujan di area proyek menjadi batal. Hal ini tidak dapat dibuktikan secara jelas, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Apakah begitu? Sekali lagi tidak dapat dibuktikan.

Satu hal yang pasti, alam makin rusak, khususnya hutan dan isinya baik hasil hutan berupa kayu termasuk jenis-jenis binatang liar dan unggas telah dibabat dan dipangkas kehidupan mereka. Mereka yang menjadi bagian dari ekosistem dan jaring-jaring makanan telah dipangkas. Pemangkasan ini menyebabkan unsur-unsur di dalam ekosistem terputus sehingga menimbulkan permasalahan pada cuaca dan perubahan iklim.

Tidak mudah untuk mengatakan bahwa manusia lepas dari tanggung jawab perubahan iklim. Manusia mendapatkan kuasa untuk memelihara dan memanfaatkan alam.

Lihatlah Aku memberikan kepadamau segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh muda bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kej.1:29).

Ayat ini jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana manusia menerima mandat untuk mengambil hasil dari tetumbuhan dan pepohonan yang Tuhan Allah ciptakan. Ayat ini tidak memberikan perintah agar manusia merusak alam, sekalipun pada ayat sebelumnya (ayat 28) menyebutkan taklukkan dan berkuasa. Apakah dengan term taklukkan dan berkuasa memberi makna mengambil tanpa memelihara? Tentu tidaklah demikian. Tuhan menempatkan manusia lebih tinggi daripada segala ciptaan-Nya sehingga pemanfaatannya untuk kemuliaan nama-Nya. Ingatlah Mazmur 8 (silahkan dibaca nanti).

Bolehkah Ritual budaya dalam Gereja (GMIT)?

Saya ingat setiap bulan Oktober di pedesaan, jemaat-jemaat pedesaan berbakti di padang. Saat itu mereka berdoa untuk satu maksud minta hujan. Bila boleh bertanya untuk sesuatu yang paradoks, bolehkah manusia melakukan ritual atau ibadah untuk meminta agar musim kemarau segera datang? Belum pernah terjadi. Yang terjadi pada kita yaitu selalu berharap agar hujan segera turun. Betapa hujan amat penting bagi kehidupan. Oleh karena itu, orang beribadah dan berdoa secara khusus untuk mendatangkan hujan. Apakah mungkin hal itu dilakukan dalam gereja menurut tradisi suku tertentu?

Suku-suku di Indonesia mempunyai cara untuk mendatangkan hujan. Apakah hujan benar-benar turun sesudah melakukan ritual itu? Jika hujan benar-benar turun sesudah suatu ritual yang tidak secara budaya, apakah kita akan berkata, mereka telah beragama secara benar? Coba baca tulisan ini, https://travel.tribunnews.com/2018/10/15/kemarau-berkepanjangan-ini-6-ritual-minta-hujan-dari-berbagai-daerah-di-indonesia?page=all

Di Timor sendiri masyarakat dalam sub-sub suku Atoin’ Meto’ memiliki ritual sendiri untuk maksud mendatangkan hujan. https://regional.kompas.com/read/2020/02/11/12374541/musim-hujan-di-ntt-terlambat-masyarakat-gelar-ritual-minta-hujan?page=all

Apakah semua itu akan dengan mudah “meluluhkan hati” penguasa langit agar memberi perintah kepada awan dan angin segera menurunkan hujan? Jawabannya, bukan demikian halnya.

Tetapi, bila budaya ini khas, mengapa tidak dapat dilakukan di dalam suatu akta liturgis yang oleh karenanya mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada Penciptanya?

Akhir tahun 2019 Jemaat Koro’oto dalam salah satu kebaktian Minggu, disisipkan doa minta hujan. Seluruh jemaat menyatukan doa kepada Tuhan dalam satu keyakinan bahwa hujan benar-benar akan turun. http://tefneno-koroto.org/?p=2791

 

Peristiwa ini mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada-Nya. Jemaat bergairah dalam doa-doa syukur mereka. Ibadah-ibadah syukur panen sudah menjadi suatu tradisi. Tetapi, bersyukur atas datangnya hujan kemudian dipikirkan, ditelaah dan akhirnya masuk dalam akta liturgis. Kami yakini bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi di Jemaat Koro’oto. Tahun 2020 berlalu dengan persembahan-persembahan syukur sebagaimana biasanya dilakukan ketika panen tiba. Warna ibadah lain masuk pada akta liturgis yakni bersyukur atas hujan dan panen perdana. Tahun 2021 hal ini kembali dilakukan oleh Jemaat di Koro’oto pada kebaktian Minggu, (07/03/21).

Dua narasi yang dimadahkan kepada Tuhan dalam bahasa lokal, Uab Amarasi sebagai berikut.

Aok-bian too srani’ arkit. Neno ia, hit arkit tabua ma ta’mees’ ok atbi Uim Re’u Kninu, Sonbua Kninu’. Hit tahiin ma takeo tak, Uisneno nneek ma namnau tuaf ma fatuf arkit. Hit, mese’-mese’ arkit tnaben tiit Uisneno In manekan naan. Hit arkit tahini msa’ tak, uran ma anin neem natuin Uisneno In tabu ma oras, ka natuin fa mansian ii in tabu ma oras. Es on naan ate, hit arkit re’ atmareen ma tmui’ po’on, tseen ma tbeben roet nahum roet uki-noah, ma pena’-maka’; 
Sekaukah es re’ natorob ma namonib roet ein naan? Hit tbeben ma tsenan sin, mes, re’ he natorob ma namonib sin, Uisneno neikn On. Onaim, hit arkit tsai ma tpoho ‘basak, rarit tasaeb sukur ma makasi teu Uisneno.
Neno ia, hit tait teik fu’-fua’ ma babaun he njair tanar nak, hit he tpao ttein rene ma po’on sin aafk ein  ma neesk ein; Maut he hit tasaeb sukur ma makasi, rarit tait ma tbukae nai.

Terjemahannya sebagai berikut

Shalom, Saudara-saudara. Hari ini kita bersama-sama di dalam Rumah Kudus, Istana kudus. Ada dalam pengetahuan kita bersama bahwa, Tuhan mengasihi dan mengingat kita. Masing-masing kita merasakan kasih-Nya. Kita mengetahui pula bahwa, hujan dan angin itu datang mengikuti yang Tuhan kehendaki pada waktunya, bukan kita yang mengaturnya. Maka, kita berladang dan mempunyai mamar (kebun tanaman umur panjang). Kita tanami semuanya dengan tanaman seperti padi dan jagung. Siapakah yang membuat semuanya bertunas dan bertumbuh? Tuhanlah yang menghidupkan semuanya itu. Jadi, kita memeluk dada dan bersyukur pada Tuhan.
Hari ini kita membawa sedikit dari ladang sebagai tanda bahwa hasil dari ladang sudah tiba. Biarlah kita bersyukur atasnya, dan mulai menikmati semuanya itu.

Di dalam kebaktian ini, jemaat Tuhan mengantar persembahan dengan doa yang kiranya sangat kental. Doa itu dinarasikan sambil musik gong ditabuh, diiringi tarian. Narasi doa pengantar persembahan berbunyi,

Koi Uisneno Amahoet
Hai mfonat iim ampaumaak Ko, Usi’
Hai msiri’ iim amtean Ko, Usi’.
Hai he mi’siti’ meik haan baisenut ma feef baisenut
Hai he mitnaat ma miskau Ho manekam meu kai
Hai mtean Ho mei-fuat akninu’
Hai meik fua’-turu’ ma fuatnatas
Hai msee’ meik sin mi’ko rene ma po’on
Hai mnona’ sin njarin fua’ unu
Hai mifneek ma mi’paen meu Ko, Usi’
Msimo ma mtoup maan sin, tua

Terjemahannya sebagai berikut,

Ya Tuhan yang Sumber Kelimpahan
Kami mendekat pada-MU
Kami makin merapat pada-MU
Kami mengganggu dengan suara berisik dalam hormat
Kami memapah dan menggendong kasih-Mu pada kami
Kami tiba di meja persembahan kudus
Kami membawa persembahan
Kami mengambil semuanya dari ladang dan kebun (mamar)
Kami menyerahkan semuanya sebagai buah sulung
Kami berharap hanya pada-MU
Terimalah semua, ya Tuhan

Kami sungguh yakin bahwa jemaat Tuhan makin dekat dan sangat rindu berada di rumah Tuhan dengan ibadah bernuansa budaya lokal. Beberapa kali kebaktian dengan pendekatan yang demikian selalu dihadiri ratusan anggota jemaat. Mereka sangat antusias membawa persembahan yang kelihatan di tangan dan yang terbungkus rapi. Angka persembahan syukur bertambah karena pemberian itu selalu disadari sebagai ta’tuta’ hanaf he tbaiseun Uisneno, (terj. mengalaskan suara (hati) ketika menghadap hadirat Tuhan).

Demikian suatu rangkaian ritual budaya yang dikemas dalam akta liturgis. Bersyukurlah senantiasa kepada-Nya dengan nyanyian, musik dan tari. Persembahan yang kami tidak seberapa banyaknya, terimalah ya, Tuhan. Kidung ini kami bawakan dalam bahasa lokal,

Fua’-turu’ fuatnatas, hai mnona’ sin ba-baun, amsium ma mtoup maan sin koi, Usi. Amnnek ma mumnau, kai.

 

 

 

Koro’oto, 9 Maret 2021
Heronimus Bani

Lonceng Gereja pada Jumat ini Dalam Balutan Dampak Pandemi Covid-19

Lonceng Gereja pada Jumat ini Dalam Balutan Dampak Pandemi Covid-19

 

Semua orang mengetahui bila lonceng gereja berbunyi sebagai tanda bunyi tanda panggilan bagi umat Kristen untuk berkumpul, berdoa pada waktu yang telah ditentukan. Biasanya umat Kristen mendatangi gedung/rumah gereja pada hari Minggu dan hari raya. Bagaimana jika itu terjadi pada hari Jumat atau hari lainnya?

Di Koro’oto, terdapat dua unit lonceng gereja dengan ukuran berbeda. Lonceng gereja yang satu dipakai untuk kebaktian utama, kebaktian-kebaktian yang bersifat istimewa, dan untuk tanda adanya kematian seseorang anggota jemaat. Satunya lagi dipakai untuk kebaktian-kebaktian kategorial/fungsional serta kegiatan-kegiatan non kebaktian.

Lonceng gereja yang berukuran besar selalu ditabuh pada hari Minggu, hari kebaktian istimewa yang diadakan bukan pada hari MInggu dan ketika kematian terjadi kapan pun itu. Bila lonceng gereja ditabuh pada hari Minggu, semua orang sudah menyadarinya bahwa di sana akan ada kebaktian utama pertama maupun kedua. Sementara bila ditabuh bukan pada hari Minggu, orang akan mempertanyakan, ada apa? Jenis Kebaktian apa? Atau siapa yang meninggal?

Hari Jumat ini, lonceng gereja ditabuh lagi pada pukul 07.00 WITa. Apakah artinya?

Sudah dalam pengetahuan umum khususnya dalam lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bahwa setiap hari Jumat dalam Masa Raya Sengsara Yesus tahun 2021 ini, lonceng gereja akan dibunyikan. Lonceng gereja yang dibunyikan pada pukul 07.00 WITa sebagai tanda dimulainya hari do’a dan puasa GMIT. Ya, suatu pertanda yang baik walau sesungguhnya berpuasa tidak perlu menyampaikannya secara terbuka kepada khalayak/publik. Tetapi, hal ini patut disadari sebagai cara yang kiranya dianggap tepat untuk memulai secara bersama-sama, serentak dalam satu satuan waktu.

Hari ini, Jumat Ketiga, 5 Maret 2021 seluruh Jemaat GMIT baik sebagai institusi maupun individu dalam komunitas semuanya akan berdoa dan berpuasa. Apakah semuanya atau seluruhnya?

Jawaban atas pertanyaan konyol ini adalah, relatif. Mengapa? Puasa bukanlah sesuatu yang menjadi kewajiban. Puasa bukanlah sakramen yang dianut oleh GMIT sebagai institusi yang merefleksikan diri sebagai murid Kristus.

MS GMIT menghimbau melalui surat yang biasanya disebut suara gembala. Suara Gembala tentang puasa dan doa kali ini mendapatkan respon beragam secara senyap oleh anggota GMIT sebagai institusi bergereja (jemaat) maupun individu anggota GMIT. Itulah sebabnya tidak semua anggota GMIT melaksanakan puasa pada hari yang ditentukan.

Pergumulan utama dalam doa dan puasa Jumat ini yakni Resesi Ekonomi Nasional, dampak dan penanganannya. Hal-hal yang diharapkan untuk didoakan yaitu, semua yang terkena dampak sosial dan ekonomi dari penyebaran covid-19; pekerja harian seperti tukang ojek, pemulung, petani, mereka yang menerima pemutusan hubungan kerja, pengusaha kecil, menengah, dan besar, pedagang kaki lima, pedagang kecil di pasar-pasar, pengelola kios, warung, dan uapay pemerintah untuk stabilisasi ekonomi. Berjubel pokok-pokok doa.

Bagian Firman Tuhan yang menjadi dasar refleksi pada hari ini dipilihkan dari Habakuk 3:17-19

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membeiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Rasanya ayat alkitab ini sungguh-sungguh suatu gambaran yang menghiburkan.

Perasaan petani manakah yang nyaman-nyaman saja ketika ladang, sawah dan kebun tidak menghasilkan? Peternak manakah yang tidak hancur hatinya ketika ternak-ternaknya menjadi bangkai setelah diserang jenis penyakit tertentu? Apakah petani dan peternak akan bersorak-sorak atas semua kemalangan itu, sambil berkata Tuhan dan Allahku menyelamatkanku, Ia sumber kekuatanku? Mungkinkah para pedagang kecil di pasar-pasar dan PKL bersorak-sorak dengan nyanyian dan doa pada Tuhan atas kerugian yang dideritanya?

Pandemi covid-19 telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pemerintah dan masyarakat negara mana pun tidak tinggal diam. Banyak pemangku kepentingan terus bergiat dalam rangka mempertahankan kehidupan ini di tengah gencarnya “serangan” virus korona yang mematikan hingga mencapai angka jutaan, sekali pun pada saat yang sama pemberitaan berbagai media menyebutkan angka kesembuhan makin naik. Semua data itu mencemaskan dari satu sisi dan menggembirakan pada sisi lainnya.

Pemerintah sudah memulai vaksinasi pada 13 Januari 2021. Presiden NKRI, Ir. H. Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi itu. Berbagai kalangan pejabat dan profesi telah menerima vaksinasi itu. Kabar-kabar miring tentang vaksin telah tertepis dengan sendirinya. Ini semua memberi harapan baru pada masyarakat agar geliat ekonomi yang sedang mundur dan merayap dapat bangkit lagi.

Lalu, apakah sebagai umat/jemaat kita pun akan segera bangun dari “pembaringan” ketika kita gereja-gereja ditutup dan kita hanya beribadah di rumah saja ketika lonceng gereja yang ditabuh untuk mengumpulkan justru tidak dapat mengumpulkan secara fisik?

Ya, kita mesti mengaminkan kata Habakuk. Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

Mari berdoa dan berpuasa walau ada rasa tidak nyaman di dalamnya. Lakukan hal itu dengan tiada bersungut-sungut. Yakinkan diri dan anggota keluarga yang berpuasa bahwa, Tuhan tidak sedang menutup mata-Nya. Allah kita tidak sedang menutup telinga-Nya. Ia tidak sedang melipat tangan-Nya. Ia terus bersama kita, melihat dan mengulurkan tangan-Nya pada kita. Ia menguatkan kita dengan firman-Nya, memeluk dan membawa kita ke dalam kehangatan pangkuan-Nya. Semoga ada pada kita kerelaan untuk menyerahkan diri pada-Nya melalui doa dan puasa ini. Tuhan memberkati.

 

 

Koro’oto, 5 Maret 2021
Heronimus Bani

 

Adakah Pencuri Akan Dengan Mudah Bertobat?

Adakah Pencuri Akan Dengan Mudah Bertobat?

 

Selasa, (02/03/21) tempat usaha kami diobrak-abrik pencuri. Kami tidak dapat memastikan jumlah orang yang masuk ke dalam tempat usaha yang belum seberapa besarnya ini. Kami sudah dapat memastikan berapa besar kerugian yang menimpa usaha kecil berupa kios sembako. Ketika pagi tiba, tetangga kami pun menyampaikan hal yang sama bahwa usaha kecilnya pun diobrak-abrik pencuri bahkan masuk sampai ke dalam rumah dan kamar-kamar. Dia membawa sejumlah uang termasuk yang dikelola sebagai uang perkumpulan para muda. Satu unit handphone raib. Beberapa jam kemudian kabar yang mirip kami terima, bahwa satu unit handphone milik seorang ibu muda dicuri, dibarengi cerita bahwa satu unit usaha kecil sempat disambangi. Beruntungnya seekor kucing bersuara keras membangunkan pemilik rumah. Saat itulah sang pencuri melarikan diri, padahal pemilik rumah tidak mengetahui situasi itu.

Senin (01/03/21) di Kelurahan Buraen, empat unit rumah diobrak-abrik pencuri. Empat keluarga ini segera menyebarkan kabar pencurian di rumah mereka masing-masing. Kabar ini pun sampai kepada aparat kepolisian di pos kepolisian terdekat. Sebagai informasi kasus tindak pidana pencurian, anggota polisi di pospol menyampaikan hal ini kepada rekan-rekannya di Kepolisian Sektor terdekat.

Selasa sore, seorang pedagang kecil keliling bermotor tiba di kios tempat usaha kami. Ia pun bercerita tentang rombongan pencuri yang masuk ke rumah beberapa keluarga di daerahnya. Gerombolan itu menggunakan senjata tajam, menetakkannya di leher para pemilik rumah. Sang pemilik rumah pasrah. Gerombolan itu mengambil barang apa pun yang disukainya, di antaranya handphone dan laptop. Segera sesudah gerombolan itu pergi, keluarga-keluarga itu melaporkan ke unit Kepolisian terdekat dengan menceritakan ciri-ciri para gerombolan pencuri, nomor handphone dan ciri lain yang menyertai. Setelah dilacak oleh anggota kepolisian mereka akhirnya tertangkap.

Kisah-kisah sekitar tindak pidana pencurian tidak akan berhenti selama pelaku dan tindakannya terus ada. Pencurian bukan sesuatu yang baru dalam dunia ini, bahkan orang-orang tertentu menjadikan pencurian sebagai profesi sehingga sebutannya berubah menjadi perampok, bandit, bajingan, mafia dan lain-lain. Penegak hukum menjadi kewalahan menangani masalah ini. Anggota penegak hukum tertentu bahkan terlibat dalam mafia pencurian dan perampokan sehingga mengatasi hal seperti itu makin sulit saja. Lalu, para pelaku itu makin kaya dan merasa terhormat, terlebih lagi bila mereka menunjukkan solidaritas kepada kaum lemah. Mungkin pembaca ingat kisah Robin Hood, bangsawan yang pulang dari perang mendapati negerinya sedang dirampok oleh penguasa. Ia bermetamorfosis. Siang hari ia seorang bangsawan, di malam hari ia menjadi seorang pencuri dermawan. Pada akhirnya orang mengetahui siapa dia. Ia menjadi buronan, tetapi justru ia memiliki pengikut dalam jumlah besar.

Yudas Iskariot Pencuri yang Menyesal saja

Alkitab mencatat nama Yudas iskariot sebagai salah seorang murid Yesus. Menurut tradisi dan tafsiran-tafsiran Yudas satu-satunya murid yang berasal propinsi Yudea, sebab murid-murid Yesus yang lain berasal dari propinsi Galilea. Kira-kira nama Yudas Iskariot artinya orang yang bersyukur, berasal dari Kariot.

Keterpilihan para murid Yesus, menurut catatan Matius, Markus dan Lukas terjadi setelah Yesus berdoa di atas bukit. Ia memberikan kuasa kepada ereka untuk mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Mat.10:1); Ia menetapkan mereka untuk menyertai Dia dan mengutus mereka memberitakan Injil, serta memberikan kuasa untuk mengusir setan (Mrk 3:14-15). Keterpilihan mereka selanjutnya disebut rasul (Luk.3:13).

Dalam ziarah pelayanan dari satu kemapung ke kampung yang lain, dari satu kota ke kota lainnya, dan dari satu sinagog ke sinagog lainnya, para murid ini selalu bersama. Sangat sering mereka berada di area terbuka dalam pelayanan, seperti di bukit dan di pantai. Kepada mereka terasa seperti tidak ada peran dalam satu organisasi kecil seperti siapa menjadi apa dalam kelompok ini, namun Yohanes mencatat Yudas Iskariot menjadi pemegang kas dari kelompok ini (Yoh.12:6)

hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

Jelas di sini informasinya tentang peranan Yudas Iskariot. Ia seorang murid (dan rasul?), dan pemegang kas (Bendahara) yang secara sembunyi-sembunyi mencuri kas. Yudas Iskariot telah melakukan tindak pidana pencurian. Ia tidak tertangkap basah. Ia menikmati hasil perbuatannya secara sendiri di belakang para murid dan Gurunya, Yesus. Yudas Iskariot pada satu titik waktu, ia menjual gurunya sendiri demi cintanya pada uang.

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Tim.6:10)

Yudas Iskariot telah membiarkan dirinya dijerat rasa cintanya pada uang. Sebagai Pemegang kas, ia mencuri. Ia mencukupkan dirinya dengan uang hasil curian. Rasanya uang hasil curian untuk memuaskan hasratnya tidak cukup, gurunya pun ia jual. Apakah berdampak?

Dampak dari menjual Guru Yesus sudah ada dalam pengetahuan umum umat Kristen. Yudas Iskariot pada akhirnya menyesal. Ia pun mengembalikan uang yang diterimanya, tetapi ditolak oleh pemberinya. Penyesalan saja tidak cukup pada Yudas Iskariot yang mengantarnya tiba pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ingatlah peristiwa Hakaldama, Tanah Darah.

Adakah Pencuri Yang Bertobat?

Sudah banyak di negeri ini kisah-kisah tentang para pencuri (perampok dan mafia) uang rakyat (negara) melalui apa yang disebut korupsi. Mereka ditangkap oleh lembaga antirasuah yakni Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka didakwa dan diadili hingga dipenjarakan. Lalu, di antara mereka ada yang sudah menikmati alam bebas di luar kerangkeng, sementara masih ada yang tertinggal di sana, dan bahkan ada pula yang ikut dijebloskan ke tempat itu. Di sana mereka menjadi narapidana tindak pidana korupsi. Di sana mereka mendapatkan “pembinaan” dari negara, terutama menyangkut akhlak, moral dan agama. Lalu, apakah ada di antara mereka yang bertobat? Semoga sudah ada. Saya belum mengetahuinya, kecuali pencuri kelas kakap Johny Indo yang akhirnya menjadi seorang Da’i (Penceramah ilmu agama Islam).

Banyak pencuri profesional yang berlaku bak malaikat penyelamat kepada masyarakat miskin. Mereka membagi-bagikan hasil pencuriannya kepada masyarakat miskin sehingga mereka makin mendapatkan nama baik. Pablo Escobar bagai dermawan mulia di Kolombia. Ia membangun gereja, pemukiman untuk orang miskin, membangun sekolah-sekolah, lapangan olahraga, dan membagi-bagikan uangnya ketika bertemu dengan masyarakat kelas bawah yang miskin. Ia sungguh-sungguh dihormati oleh masyarakat kelas bawah, tetapi ia menjadi buronan pemerintah. Akhir hidupnya sungguh tragis.Ia tewas dalam baku tembak dengan pasukan khusus yang dikirim pemerintah untuk mengejarnya. Negara (pemerintah) “membunuh” penguasa mafia dan kartel kokain di Kolombia, sementara sekitar 25.000 orang menangisi jenazahnya ketika dimasukkan ke kuburan. Apakah Pablo Escobar sang Pencuri (Perampok, Bandit, Buronan) itu telah berbuat baik dan bertobat?

Beragam kisah para pencuri kelas dunia yang tidak bertobat. Mereka justru berkubang dalam kesenangan mereka karena dianggap sebagai “dewa” penyelamat masyarakat kelas bawah. Mereka bangga akan keberhasilan mereka mencuri lalu berbagi.

Kami tidak mengetahui, apakah pencuri yang mendongkel empat rumah di Kelurah Buraen dan yang lain di desa Nekmese membawa uang dan berbagi sambil membusungkan dada sebagai dermawan?

Adalah suatu kisah nyata terjadi di India. Seorang sopir taxi kehilangan dompet berisi uang dan surat izin mengemudi. Dompet itu dicuri oleh penumpangnya. Dua belas tahun kemudian, si pencuri mengirim kembali dompet itu melalui kantor pos. Ia menyelipkan surat permintaan maaf kepada sang sopir. Uang yang hilang bila dirupiahkan 3,7 juta, tetapi dikembalikan sebanyak 4,7 juta rupiah. Sang sopir telah lupa akan dompet itu, isinya dan SIMnya.

Pembaca, apa pendapatmu?

Yesus, ketika disalibkan di Golgota, Ia bersama dua orang penjahat. Seorang di sebelah kiri dan seorang lagi di sebelah kanan. Penjahat di sebelah kiri menghojat Yesus.

“Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk.23:39)

Sementara penjahat di sebelah kanan menegor rekannya sesama penjahat.

“Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman ayng sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbutan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”(Luk.23:40-41)

Ia melanjutkan kata-katanya yang ditujukan keada Yesus,

“Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Kata-kata itu mendapatkan jawaban dari Yesus,

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Jika kita menganalogikan pencuri sama dengan penjahat, ternyata ada pula yang bertobat? Semoga para pencuri kelas teri hingga kelas kakap; kelas sederhana hingga mewah meriah mendapatkan hikmat-Nya untuk merengkuh pertobatan.

 

Koro’oto, 03 Maret 2021
Heronimus Bani

 

 

 

 

Sukacita Pemberian untuk Dukacita Penguburan

Sofi sebagai Pemberian Duka

Jujur saya mesti mengatakan bahwa saya tidak mengetahui secara persis kata atau istilah yang dipakai oleh kalangan anak-anak suku Atoin Meto’ untuk pemberian yang ditujukan kepada jenazah seseorang yang telah meninggal dunia. Masyarakat adat Pah Amarasi menyebut sofi. Sofi merupakan pemberian terbaik dan terakhir kepada orang yang dikasihi ketika meninggal dunia. Sang jenazah tidak mengetahui apakah jenis pemberian itu benar-benar baru, atau yang sudah pernah dipakai tetapi sangat favorit tetapi direlakan, atau alasan apa pun itu. Suatu kepastian, sofi diberikan dengan ketulusan dengan iringan tangis. Biasanya sofi berupa kain tenunan terbaru atau pakaian baru.

Selain sofi, pemberian lainnya berupa materi (uang, ternak, beras) yang dibutuhkan ketika seseorang meninggal dunia. Pemberian-pemberian itu diperhitungkan sebagai upaya menyokong dan mengangkat beban dukacita yang dipikul oleh satu keluarga yang sedang berdukacita atas kepergian untuk selama-lamanya anggota keluarganya.

Minyak Wangi Pemberian Terbaik

Bagaimana dengan Yesus?

Dalam kebaktian MInggu Sengsara II, pembacaan diambil dari Yohanes 12:1-8; Khotbah disampaikan oleh para pelayan dengan melihat para tokoh dalam kisah yang dicatat oleh Yohanes. Di sana ada Yesus, Lazarus, Maria dan Marta. Bila menengok para tokoh dengan locus dan fokus cerita, para pelayan dapat memberikan tafsiran menarik dan menyesuaikannya dengan situasi yang sedang dialami umat/jemaat pada masa ini.

Ayat 7 dari pembacaan ini menarik untuk diulas dengan menyandingkannya pada situasi zaman khususnya pada mayarakat adat di pedesaan. Maria memberikan sesuatu yang teramat sangat berharga. Yudas sebagai Bendahara organisasi kecil para murid Yesus, menilai bahwa minyak yang dipakai untuk membersihkan kaki Yesus merupakan yang terbaik dan termahal. Bila dijual, hasil penjualannya yang dipastikan mencapai 300 dinar akan sangat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kepada para kaum miskin-papa.

Saya mencoba menggunakan aplikasi id.investing.com untuk mengkonversi mata uang dinar ke dalam rupiah. Terdapat beberapa negara di Timur Tengah yang menggunakan mata uang dinar.  Saya memilih Yordania. Hasil konversinya menunjukkan 300 Dinar sama dengan Rp6.033.000 pada saat ini. Semoga tidak keliru, atau bila keliru sekalipun, angka 300 dinar dalam catatan Yohanes sebagaimana yang diucapkan Yudas Iskariot, merupakan suatu nilai nominal yang besar. Nilai nominal yang besar itu bila benar-benar menjadi nilai kas tunai di tangan seorang Bendahara, betapa besar manfaatnya.

Maka, pemberian Maria sangat luar biasa. Ia tidak saja memberikan milik terbaik dan teramat mahal, tetapi  telah pula “menurunkan” harga dirinya dengan menggunakan rambutnya yang dikerudungi untuk menyeka kaki Yesus agar bersih dari siraman minyak, sekaligus aroma minyak itu menyeruak memenuhi ruangan dimana mereka duduk bersama. Suatu pemberian dan kerelaan yang sangat tidak terukur karena Maria telah memberikannya dengan sukacita dan keikhlasan.

Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. … .” (ayat 7)

Yesus mengetahui akan hari kematian-Nya. Maria melakukan hal itu sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur karena Yesus telah bersama mereka dalam jamuan makan di rumah mereka. Di sana ada Lazarus dan Marta, tiga bersaudara yang menerima Yesus. Suatu kehormatan mendapatkan kunjungan itu. Yohanes tidak mencatat orang banyak yang mengikuti Yesus di rumah itu, kecuali para murid Yesus. Tetapi, sekiranya ada orang-orang di sekitar tempat itu, mereka pun dapat menghirup aroma wangi yang menyebar di sekitar ruangan dan di luar ruangan akibat dituangkan dari botol batu yang dipatahkan lehernya itu.

Suatu diskursus akan terjadi secara di tengah-tengah masyarakat   akan membahas sikap dan tindakan Maria pada Yesus. Aspek-aspek kehidupan Maria akan “dicungkil” untuk mengetahui latar belakang kehidupannya bersama Lazarus dan Martha. Profesi dan penghasilan yang didapatkannya agar dapat memiliki minyak wangi yang mahal itu. Aspek pemborosan juga tidak luput dari perbincangan-perbincangan yang kiranya pada zaman ini akan menimbulkan olok-olok dan penistaan-penistaan.

Yesus sendiri akan menerima olok-olok aau bully itu karena tidak mau menegur Maria yang meminyaki kaki-Nya itu. Pastilah dibuatkan meme-meme yang menggambarkan variasi air muka Yesus dan Maria dengan bumbu kata-kata yang mengiris perasaan. Tapi, Yesus pasti diam saja. Maria, Martha dan Lazarus mungkin menjadi trending topik atas kehormatan menerima Rabi Yesus dan para murid-Nya, sekaligus pemberian yang “sia-sia” itu.

Pemberian sebagai Persiapan Penguburan

 

Andaikan hari ini seseorang datang membawa satu pemberian, lalu yang menerima pemberian itu mengaakan, “Ini pemberian sebagai persiapan penguburanku.” Tidakkah orang-orang sekitar akan kecewa dan marah?

Menelisik makna pemberian sebagai persiapan penguburan, mungkin sebaiknya saya mengatakan begini. Setiap pemberian kita kepada sesama, biarlah kita berikan secara sukarela dan sukacita. Kita tidak mengetahui kapan seseorang itu akan meninggal dunia. Seseorang yang sedang memasuki masa tua, hidup menjanda atau menduda; bukankah mereka patut mendapatkan perhatian? Oh… mereka mempunyai anak-anak, menantu dan cucu yang dapat memelihara kehidupan mereka. Setuju. Tetapi, sebagai sesama, apakah kita akan menonton orang-orang dalam situasi semacam itu?

Ketika orang-orang seperti itu meninggal dunia, sebagai sesama kita mengantarkan sesuatu sebagai yang teramat berharga, lalu semua itu dipakai untuk menguburkan jenazah. Bukankah sebaiknya pemberian kita diberikan pada saat ia masih hidup agar dapat dinikmatinya?

Lalu bagaimana ketika ia meninggal, bukankah kita perlu mengadakan upacara subat?

Ya, upacara subat, penguburan wajar dilaksanakan dengan “harga” yang mahal sekaligus mendongkrak “harga diri” keluarga. Pemberian itu untuk terakhir kalinya yang tidak dirasakan oleh jenazah. Pemberian terakhir kalinya itu dilihat oleh orang-orang yang datang dalam suasana duka. Mereka berduka bersama keluarga duka, sekaligus pulang dengan membawa kesan “harga diri” yang tidak tercoreng.

Yesus telah menyiapkan Diri-Nya untuk memasuki dunia orang mati. Maria, tidak menyadarinya. Ia memberikan yang terbaik pada tubuh Yesus. Yesus yang masih hidup saat itu dapat menikmati pemberian itu, bahkan orang-orang sekeliling-Nya pun turut menikmatinya dengan beragam persepsi, termasuk Yudas Iskhariot.

 

 

Koro’oto, 1 Maret 2021

 

 

Koro’oto dalam Puasa dan Doa Jumat Kedua Minggu Sengsara Yesus Tahun 2021

Kebijakan Berpuasa dan Berdoa dalam GMIT

Dalam Masa Raya Sengsara Yesus tahun 2021 ini, Majelis Sinode GMIT memandang perlu mengeluarkan suatu kebijakan organisasi. Kebijakan organisasi keagamaan GMIT kali ini tentang doa dan puasa. Hal ini disadari perlu ada, kiranya “wajib” dilakukan oleh anggota jemaat baik secara individu, keluarga-keluarga dan komunitas hidup berjemaat. MS GMIT mempunyai alasan-alasan teologis ketika mengeluarkan kebijakan yang satu ini yakni Berpuasa dan Berdoa.

Saya kutipkan dasar teologis itu sebagaimana edaran yang sudah sampai di tangan kami Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Tradisi puasa memiliki akar kuat di dalam Alkitab. Alkitab menulis tentang puasa sebagai tindakan perseorangan, seperti uyang dilakukan Musa (Kel.34:28), Daud (2Sam 12:16), Elia (1Raj.19:8), Ester (Est 4:16), Ayub (Ayb 2:13), Daniel (Dan.1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), Yunus (Yun.1:17); Yesus (Mat 4:2; Luk 4:2), Yohanes Pembaptis (Mat 11:16(), Paulus (Kis 9:9). Selain itu Alkitab juga mengisahkan puasa sebagai tindakan umat yang mempercayakan hidup kepada Allah. Ester, Mordekhai, dan seluruh orang Yahudi di pembuangan berpuasa untuk menaruh nasib mereka ke dalam tangan TUHAN (Ester 4:3, 16). Jemaat mula-mula berdoa dan berpuasa menyerahkan Barnabas dan Saulus untuk tugas pemberitaan Injil (Kis 13:2-3). Demikian pula par arasul uyang menyerahkan para penatua di setiap kota ke dalamt angan Tuhan melalui puasa bersama (Kis 14:23).

 

Pengajaran Tuhan Yesus tentang hal berpuasa dapat dilihat pada kesaksian Matius 616-18 bahwa puasa tidak dilakukan agar dilihat orang lain, melainkan sebagai upaya mendekatkan diri dengan Allah dan mendapatkan belas kasih Allah. Kita belajar dari Alkitab agar di masa krisis ini semua anggota GMIT dapat berpuasa di hadapan Tuhan. Kita berpuasa untuk memohon pertolongan Tuhan bagi dunia yang sedang digerogoti pandemi covid-19. Puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, tetapi sebagai seruan iman dan tanda solidaritas sosial.

 

Dari dasar teologis dan sekaligus pemikiran tentang sikap solidaritas itu MS GMIT mengeluarkan kebijakan ini. MS GMIT menghimbau tanpa memaksakan puasa dan doa ini sebagai suatu keharusan atau kewajiban pada seluruh individu, keluarga dan komunitas berjemaat se-GMIT. MS GMIT telah pula menetapkan dalam kebijakan ini tentang teknik pelaksanaan puasa dan doa setiap hari Jumat dalam Masa Raya Sengsara Yesus selama 7 minggu (7 hari Jumat berpuasa dan berdoa), ditambah liturgi sederhana yang menjadi panduan ibadah di setiap keluarga.

Sebagai anggota GMIT, saya merasa perlu untuk bertanya, apakah puasa dan doa secara khusus pernah ada sepanjang sejarah adanya GMIT?

Saya baru merasa menjadi anggota GMIT ketika menjadi anggota sidi jemaat. Sebelum menjadi anggota sidi, saya masih bayi, kanak dan anak, pemuda luntang-lantang tak tentu keyakinan pada apa yang disandangnya kecuali memiliki pengetahuan alkitab seadanya oleh karena bersekolah Minggu. Sepanjang masa-masa itu saya belum pernah mendengar adanya puasa dan doa yang diatur secara khusus oleh MS GMIT.

Lantas apakah puasa dan doa yang diatur kali ini kurang tepat? Sesungguhnya menurut saya belum tepat. Mengapa?

  • Ajaran GMIT tentang puasa dan doa yang khusus dan khas belum nampak sekalipun secara teologis ada dasar alkitabiah pada dua hal ini. Berdoa, sudah ada sejak adanya makhluk manusia, Adam dan Hawa. Mereka berbicara dengan Tuhan dengan segala keluh-kesah, puji dan sembah serta syukur. Itu semua sudah doa, oleh  karena kita memiliki pengetahuan tentang doa yaitu berkomunikasi atau berbicara dengan Tuhan. Jadi, setiap orang yang berbicara dengan Tuhan, sesungguhnya dia sedang berdoa. Ketika GMIT melanjutkan misi kerasulan dan pemuridan, hal berdoa terus dipertahankan dengan kadar doa yang dirasakan sendiri oleh individu dan komunitas. Ajaran tentang puasa oleh GMIT, belum ada, atau jika sudah ada belum dapata dilaksanakan secara serentak dalam satu satuan waktu sebagaimana yang sedang terjadi pada saat ini.
  • MS GMIT tentu akan berdalih bahwa sudah ada ajaran tentang puasa. Ya. Sudah ada dalam alkitab. Ajaran tentang puasa dalam GMIT pastilah berdasarkan ayat-ayat Alkitab yang sudah ditunjuk dalam dasar teologis sebagaimana yang nampak dalam panduan berpuasa dan berdoa di Masa Minggu-Minggu Sengsara. Tetapi, sebagaimana GMIT sendiri mempunyai Pengakuan Iman, bukankah hal itu telah melalui suatu kajian-kajian yang memakan waktu hingga menghasilkannya dan menjemaatkannya? Maknanya, sebagai satu pengakuan iman, hal itu sebagai suatu ajaran yang khas GMIT. Maka, puasa semestinya muncul sebagai suatu ajaran sehingga kita tidak berpuasa oleh karena suatu tekanan situasi tertetu apalagi berada dalam kekuatiran sebagai organisasi keagamaan yang “terlambat” mengingatkan anggotanya untuk melakukan sesuatu tindakan keagamaan.

Dalam pada itu saya tidak skeptis apalagi apatis pada kebijakan organisasi keagamaan GMIT. Saya salah satu anggota di dalamnya yang tentu saja bukan pemikir dari aspek manapun dalam hal ini.  MS GMIT tentu mempunyai road map sebagai panduan dalam menjalankan roda organisasi sehingga tidak terkesan sedang tersentil situasi tertentu barulah tergerak untuk mengeluarkan suatu kebijakan.

Pokok Doa dan Refleksi Jumat Kedua Minggu Sengsara 2021

Berpuasa dan berdoa untuk Tenaga dan Fasilitas Kesehatan. Itulah tema refleksi pada hari Jumat ini (26/02/21). Pokok-pokok doa diarahkan kepada tenaga medis di berbagai rumah sakit di seluruh dunia, terutama di kota/kampung di NTT yang sedang bekerja sangat keras untuk menolong saudara-saudara yang terinveksi covid-19. Bagi keuarga tenaga medis yang rela ditinggalkan demi dukungan pelayanan, dan berdoa untuk uypaya pengadaan alat-alat dan fasilitas media yang terbatas serta untuk para pemimpin dan manajemen rumah sakit, puskesmas, dinas kesehatan, laboratorium biokesmas, klinik-klinik yang menangani covid-19 dan kesehatan masyarakat.

Semua pokok doa ini dialaskan dan di bawah terang ayat alkitab yang terambil dari 1 Kor.10:13

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Dalam teks berbahasa Amarasi terjemahan Unit Bahasa dan Budaya GMIT, bunyinya:

Ansuun oras, karu ho mnaben mak he mmoe’ maufinu, mumnau mak, tuaf bian annaben niit furit on naan amsa’. Mes ho bisa mpirsai Uisneno mak, In nmoe’ natuin In uaban kuun. Fin In ka nkonan ko fa he mupein furit anneis na’ko ho ‘be’im. Ansuun oras re’ ho mupein furit on re’ naan, In nfee ko raan a’po’i. In nroim he nmoe’ ko mahan mu’bei’, he ho kais ammouf.

Kita menyadari bahwa sejak pandemi covid-19 merambah dunia bagai gemetar. Setiap hari selalu ada kabar kematian akibat terpapar korona. Sekalipun para pembuat berita mengikutsertakan kabar keberhasilan mencegah sehingga ada di antaranya yang sembuh, tetap kematian dan upacara penguburannya menjadi tidak membuat nyaman umat manusia.

Hari ini, MS GMIT dan seluruh keluarga besar anggota Jemaat-jemaat GMIT diharapkan melaksanakan puasa dan doa bersama. Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan doa melalui beranda akun facebook demikian,

Di tengah pertempuran melawan daya Covid yang mengancam kehidupan
Kami kirim doa untuk para tenaga kesehatan, dokter, perawat, laboran, tenaga palang merah, dan penyintas Covid yang berbagi plasma darah bagi yang membutuhkan.
Tuhan kiranya menjagamu dari susah dan celaka
Dia memberkati ketulusan dan kebaikan hatimu.

Doa-doa dari seluruh anggota GMIT yang turut serta secara sukarela dalam doa dan puasa Jumat Minggu Sengsara Yesus, kiranya sama dan seirama.

Hambatan Puasa pada Jumat ini

Jemaat Koro’oto telah melalui suara gembala yang disampaikan oleh Pdt. Papy Ch. Zina, S.Th, pada hari Minggu, 21 Februari 2021 telah menghimbau anggota jemaat untuk sekiranya mengikuti suara gembala melalui surat yang disampaikan kepada para Ketua Majelis Klasis, Ketua-Ketua Majelis Jemaat dan anggota jemaat se-GMIT untuk berdoa dan berpuasa pada Jumat kedua Masa Raya Minggu Sengsara Yesus tahun 2021 ini. Himbauan itu tidak bersifat wajib. Anggota Majelis Jemaat pun tidak wajib, sekalipun disepakai dalam koordinasi mingguan, Sabtu.

Siapa menduga bahwa akan terjadi kematian di dalam Jemaat Koro’oto. Kematian itu terjadi pada hari Rabu (24/02) dan Kamis (25/02). Kematian yang terjadi senantiasa baru akan dikuburkan setelah dua hari berkabung. Maka, kematian yang terjadi pada hari Rabu, jenazahnya akan dikuburkan pada hari Jumat (26/02). Selanjutnya kematian yang terjadi pada Kamis, jenazahnya akan dikuburkan pada hari Sabtu (27/02). Situasi menjadi tidak nyaman. Puasa untuk pertama kalinya walau hanya sehari antara pukul 07.00 – 18.00. Apakah gangguan sedang membayang? Dapat saja demikian.

Disepakati oleh Majelis Jemaat ketika selesai ibadah penghiburan pada keluarga duka pertama, bahwa puasa tetap akan dilangsungkan walau penguburan akan berlangsung pada hari Jumat (26/02). Sementara itu terjadi perubahan jadwal penguburan jenazah kedua yang meninggal pada hari Kamis (25/02). Jenazah kedua akan dikuburkan pada hari Jumat (26/02). Dengan demikian dalam sehari ini, Jumat (26/02) akan terjadi dua kali kebaktian penguburan jenazah anggota Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Puasa tetap berlaku untuk anggota Majelis Jemaat yang secara diam-diam tidak menunjukkan tanda-tanda sedang berpuasa. Ini pengalaman pertama berpuasa secara “massal” bagi anggota jemaat GMIT di Koro’oto, khususnya pada anggota-anggota Majelis Jemaat. Kebaktian penguburan dua jenazah anggota Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto tetap dilangsungkan. Kebaktian pertama pada pukul 12.00 WITa, sementara kebaktian kedua berlangsung pada pukul 15.30 WITa. Keduanya berlangsung dalam cuaca yang membuat perasaan tidak nyaman.

Puasa tidak terbatalkan sepanjang seharian. Para petugas penjemput ke ruang makan sesudah ibadah-ibadah syukur kedukaan dapat memahami situasi para anggota Majelis Jemaat.

Lonceng gereja baru ditabuh pada pukul 19.00 WITa. Waktu menutup puasa untuk hari Jumat kedua dalam Masa Raya Sengsara Yesus telah berakhir.

 

Koro’oto, 26 Februari 2021
Heronimus Bani

 

 

Selamat Ulang Tahun Kamu yang di Sana?

Selamat Ulang Tahun Kamu yang di Sana?

Beragam tulisan pendek dapat kita baca pada dinding aplikasi media sosial, facebook. Di sana ada dinamika emosi dimainkan oleh para pengguna media ini sedemikian rupa sehingga para sahabat dapat memberikan kemungkinan pilihan suka, suka sekali, peduli, sedih, bahkan marah dan lain-lain. Kalimat pendek seperti judul tulisan kali ini, selamat ulang tahun kamu yang di sana atau halo kamu yang di sana, apa kabar? Ada lagi seperti ini, kamu pasti sudah bahagia bertemu dengan saudaramu, dan sejumlah kalimat lain yang disasarkan kepada orang yang sudah meninggal. Mengapa disasarkan kepada orang yang sudah meninggal? Karena foto/gambar dari orang yang sudah meninggal ditempatkan pada dinding atau beranda akunnya. Wajah orang yang sudah meninggal tidak hilang ketika tersimpan rapi dalam jejak digital pengguna feisbuk. Maka, ketika feisbuk mengingatkan secara otomatis, penggunanya bagai mendapat kabar baik dan baru, sehingga memberikan respon dengan tulisan (caption) seperti yang saya coba rangkum di atas.

Kita boleh bertanya, apakah para almarhum atau almarhumah sedang merasakan apa yang sedang Anda rasakan ketika menulis caption seperti itu? Entahkah kaum ber-Tuhan di dalam Yesus Kristus meyakini bahwa ada kehidupan sesudah kematian, tetapi komunikasi orang yang hidup di balik sana hanyalah suatu kesia-siaan?

Banyak tokoh di dalam alkitab yang dinyatakan meninggal dunia, dikuburkan dengan upacara tertentu menurut tindak kebudayaan masyarakat pada masa itu. Kita ingat cerita bagaimana Abraham hendak menguburkan jenazah Sara, isterinya. Ia membeli sebidang tanah sekaligus tanaman yang ada di sana. Sebidang tanah itu terdapat satu goa yang sekaligus dimanfaatkan Abrahaman untuk menguburkan isterinya itu (Kej.23). Apakah sesudah kematian Sara, Abraham akan sering mengirim pesan kepada sang isteri tercintanya itu yang rohnya hidup di balik sana?

Mari kita lihat tokoh alkitab lain yang kuburannya dikunjungi lalu rohnya dipanggil. 1 Samuel 28 menceritakan tentang Saul yang menggunakan jasa orang yang mampu memanggil arwah (roh orang mati). Orang yang memberikan jasanya kepada Saul, berhasil memanggil arwah dari Samuel yang sudah meninggal dunia. Dialog dibangun antara Saul dan arwah Samuel. Apakah Samuel mengucapkan berkat kepada Saul? Tidak! Ia justru menyatakan kepada Saul hal-hal yang akan mencelakakannya. TUHAN menyerahkan Saul dan orang-orangnya ke tangan musuh mereka. Kematian menjemput mereka untuk bersama-sama dengan arwah Samuel di dunia dimana Samuel berada (28:19).

Banyak tokoh di dalam alkitab yang meninggal, kuburannya tidak dikultuskan dan disembah. Jasa baik mereka dikenang, ya. Mereka tidak boleh lagi disanjung-sanjung bagai junjungan (tuan, tuhan, dewa, dewi) baru.

Tokoh alkitab seperti Yesus. Ia hidup dalam pelayanan dalam waktu yang singkat. Menurut Yohanes, karya-karya Yesus menurut tak dapat dituliskan satu per satu, karena agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis (Yoh.21:25).

Kita mengetahui bahwa Yesus yang disengsarakan hingga disalibkan dan mati di palang salib, Ia dikuburkan. Ia ditangisi. Kuburan-Nya dijaga dan hendak dirempah-rempahi oleh perempuan-perempuan yang berkunjung untuk maksud itu. Tetapi, apa yang terjadi? Mereka tidak menemukan jenazah-Nya. Raga-Nya telah tiada. Ia bangkit dari kematian.

Hal kebangkitan Yesus dari kematian-Nya menjadi alasan yang teramat kuat untuk membangun keimanan umat.

…jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. (1 Kor.15:17).

Yesus yang Manusia Tulen telah menjadi Tuhan. Ia dimuliakan. Dialah yang patut dimuliakan. Segala pujian dan sembah hanya kepada-Nya. Kita tidak diperkenankan menyembah kepada arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. Keliru bila orang menyapa mereka yang meninggal dunia dengan sapaan selamat ulang tahun, dan lain-lainnya itu. Siapakah memastikan mereka sedang berulang tahun di dunia yang berbeda dengan dunia kita di permukaan bumi ini?

Sering pula ada pernytaan, jadilah pendoa pada kami. Mungkinkah ada ayat alkitab yang dapat menjadi rujukan atau acuan kita untuk mengatakan seperti itu? Saya mesti jujur, saya tidak mengetahuinya.

Bila melansir berbagai berita kebudayaan tentang arwah, pada budaya orang Tionghoa arwah dapat diajak untuk berdoa bersama dengan memohon izin dari Tuhan.

Bila Anda memiliki keluarga, saudara, sahabat atau siapa pun yang sudah meninggal dan berminat mendoakannya, ajaklah juga arwah atau jiwanya berdoa bersama.

“Lebih baik mereka berdoa sendiri saja karena merekalah yang paling tahu doa apa yang mereka perlukan,”ujar Herwiratno, pria yang sudah ribuan kali berkomunikasi dengan arwah.

Menurut Herwi yang juga dosen sastra Cina ini, para arwah ini sudah tidak lagi memiliki rasa. Karena itu, kalau berdoa tak lagi bisa tersambung rasa dengan Tuhan.

Karena itu doa bersama itu penting supaya kita yang masih menjadi manusia bisa meminjamkan rasa kita untuk mereka. Ketika arwah-arwah itu bisa berdoa sendiri, maka tidak hanya bisa mendoakan diri mereka sendiri tetapi juga bisa mendoakan yang lain-lain.

Herwiratno menyebutkan, setidaknya ada dua cara mendoakan arwah, secara pasif dan aktif. Berdoa secara pasif maksudnya Anda mengajak arwah atau jiwa-jiwa lain berdoa bersama tanpa perlu menunggu permintaan (gangguan) mereka.

“Doa ini dilakukan bersamaan dengan waktu Anda berdoa saja,”ujar penulis buku “Hidup Tidak Lenyap Hanya Berubah.”

Caranya, ketika Anda mulai berdoa, cukup buka dengan kalimat mohon izin kepada Tuhan, bunyinya,”Tuhan mohon izin untuk mengajak jiwa si A dan si B atau jiwa siapa pun yang berada di sekitar sini untuk berdoa bersama.”

Kalimat ini, kata Herwi, diniatkan sekaligus sebagai undangan kepada para arwah untuk berdoa bersama. Setelah itu, silakan Anda berdoa sendiri sesuai yang Anda inginkan. Namun sempatkan untuk diam hening beberapa saat dan beri kesempatan para arwah meminjam rasa batin Anda untuk berdoa pribadi sesuai keperluan masing-masing.

“Saat hening itulah, Anda bisa membuka batin untuk berkomunikasi. Bisa jadi mereka akan menyampaikan pesan-pesannya atau meminta bantuan. Syaratnya Anda harus percaya,” tutur Herwi. (liputan6.com)

Apakah dalam keKristenan terdapat ajaran yang demikian? Tidak ada. Maka, memintakan para arwah berdoa untuk orang-orang yang masih hidup suatu kekeliruan dalam penghayatan akan ajaran dan kepercayaan Kristen.

Dalam ajaran Kristen hanya Roh Kudus yang dapat mendoakan kita ketika kita lemah.

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh itu sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27-27)

 

Jadilah orang-orang hidup yang berdoa kepada Tuhan di dalam Nama Yesus, bukan meminta para arwah berdoa untuk kita yang masih hidup. Hanya orang hidup yang berdoa sebagaimana Yesus mengajarkannya kepada kita. Bacalah Lukas 11: 2-4 dan Matius 6:5-15

 

Koro’oto, 24 Februari 2021

Heronimus Bani

 

 

Anda sudah Berpuasa?

Surat Edaran Pemerintah Daerah/Kota tentang Berdoa dan Berpuasa

Pemerintah Kabupaten Rote-Ndao dan Kota Kupang telah menyerukan doa dan puasa kepada masyarakat di dua daerah otonom ini. Bupati Rote-Ndao, Paulina Haning-Bullu, SE mengeluarkan suatu Maklumat untuk Berdoa dan Berpuasa dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Maklumat ini ditujukan kepada  Pemimpin Organisasi Keagamaan dan Masyarakat Kabupaten Rote-Ndao. Maklumat tertanggal 1 Pebruari 2021 mendapat respon dan apresiasi dari seorang Pendeta (yang jika boleh) aktif sebagai Pengkhotbah via Youtuber (Youtuber). Umat Kristen terberkati dengan siraman rohani sang Pendeta yang menggunakan pendekatan berbahasa lokal, bahasa yang paling mudah dimengerti oleh pendengarnya. Bahasa Melayu Kupang yang dicampuradukkan dengan Bahasa Indonesia, sering sekali menggelitik pada sasaran.

Bukan hanya Bupati Rote-Ndao yang mengeluarkan surat itu, tetapi Walikota Kupang, Dr. Jefry Riwu Kore (Jeriko) juga mengeluarkan surat himbauan tertanggal 6 Pebruari 2021 yang ditujukan kepada para Pemimpin Organisasi Keagamaan dan Masyarakat Kota Kupang untuk berdoa dan berpuasa. Kompas TV merespon dengan menyebarluaskan surat ini sebagai suatu berita baik untuk secara bersama menangani penyebaran virus korona di berbagai daerah, dimana salah satunya dengan berdoa dan berpuasa sebagai umat yang ber-Tuhan.

Persoalan kita sekarang ketika mengetahui adanya dua Kepala Daerah mengeluarkan surat himbauan agar sebagai penganut agama apapun, kita mesti secara sukarela berdoa dan berpuasa. Di sini kita patut bertanya, apakah kedua Kepala Daerah ini memahami substansi dari suatu tindakan berpuasa secara massal? Lebih spesifik, apakah kedua Kepala Daerah ini sadar model dan pendekatan doa dan puasa dalam agama yang dianut masyarakatnya?

Kata Alkitab Tentang Puasa.

Pada hari yang kesepuluh bulan yang ketujuh itu haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus dan merendahkan dirimu dengan berpuasa, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan (Bil.29:7)

Puasa sebagaimana terlihat pada Bilangan 29:7 ini dilakukan oleh umat Israel pada masa tertentu. Masa yang ditentukan oleh Tuhan yaitu setiap tanggal 10 bulan Ketujuh dalam Kalender Ibrani. Ayat sejajar dengan Bilangan 29:7 ini tertulis dalam Imamat 16:29

Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.

Melihat dan membaca dua ayat alkitab ini, ada unsur penting yang mesti menjadi perhatian kita bila kita mau mengikuti jejak umat Israel dalam hal berpuasa.

  • Ada yang menetapkan waktu berpuasa. Oknum yang menetapkan waktu berpuasa di sini adalah Tuhan Allah sendiri. Ia menyampaikannya kepada hamba-Nya, Musa. Ketetapan waktu itu jelas dan terang.
  • Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) semua orang harus merendahkan diri dalam puasa. Kira-kira maknanya semua orang harus duduk bersama dalam suatu ibadah dan doa dalam satu satuan waktu yang sama. Dalam satuan waktu yang sama itu, semua orang harus berpuasa (tidak makan dan tidak minum); 2) siapa pun tidak boleh atau dilarang bekerja pada hari berpuasa itu. Syarat kedua ini amat jelas. Jadi bekerja sebagai suatu keharusan pada kita untuk mendapatkan “sesuap nasi” dilarang pada waktu yang ditentukan untuk merendahkan diri dengan berpuasa itu.

Jika merujuk pada ayat alkitab di atas untuk pelaksanaannya secara riil, maka semestinya suatu daerah akan mengalami suatu situasi yang sepi dan hening. Tenang tanpa hingar-bingar rutinitas pekerjaan. Kira-kira sama seperti Hari Raya Nyepi umat Hindu.

Ada pula model puasa tidak seutuhnya “melaparkan dan menghauskan” diri yang juga tercatat di dalam Alkitab. Daniel dan kawan-kawannya berpuasa. Mereka tidak seutuhnya berpuasa dalam pengertian tidak makan dan tidak minum. Mereka tetap makan dan minum tetapi pada makanan tertentu bagi mereka tidak pantas untuk dimakan dan diminum. Mereka berpuasa pada makanan dan minuman yang tidak pantas itu. Sementara makanan atau minuman lain bagi mereka boleh dimakan dan diminum. Ini pun berpuasa secara terbatas.

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (Dan.1:9)….

 

Ayat alkitab ini dan cerita yang mengawali dan seterusnya bila kita membaca kitab Daniel 1, kita mengetahui dari sana informasi mengenai upaya melarang diri sendiri untuk tidak makan dan tidak minum semua yang disiapkan secara mewah dan istimewa dari hidangan yang biasanya disiapkan untuk raja. Artinya, Daniel dan kawan-kawan semestinya bersyukur sebagai orang buangan, mereka diperlakukan secara istimewa di istana raja Babel. Tetapi, Daniel, dan kawan-kawan justru memilih cara makan-minum yang berbeda. Suatu sikap dan tindak keberanian yang patut dicemasi. Mengapa? Bukankah mereka orang-orang buangan yang dibawa masuk ke sarang penguasa, (tahanan politik mungkin) sehingga akan dengan mudah dihukum?

Puasa pada makanan tertentu diberlakukan pada diri sendiri dalam satu satuan waktu tertentu. Hal ini dilakukan Daniel dan kawan-kawan. Mereka tidak makan dan minum dari makanan yang disiapkan untuk raja. Mereka memilih makanan dan minumannya sendiri untuk dibuatkan percobaan yang membandingkan orang-orang muda yang makan dan minum dari hidangan raja dengan Daniel dan kawan-kawannya itu. Waktu yang ditentukan selama 10 hari. Hasilnya terlihat, Daniel dan kawan-kawannya jauh lebih sehat bahkan Tuhan memberikan kepada mereka hikmat dan pengetahuan melebihi kebanyakan kalangan pemuda.

Puasa lain masih ada tercatat di dalam Alkitab. Saya membatasi untuk mencatat seluruhnya. Saya mengutip catatan bagaimana Yesus berpuasa.

Yesus yang penuh dengan Roh Kudus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puuh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. (Luk.4:1-2).

Merujuk ayat ini, kiranya puasa yang dilakukan Yesus terlihat seperti puasa makan saja. Perhatikan kalimat selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Ia tidak makan apa-apa. Ia puasa pada makanan. Tetapi, waktunya selama 40 hari (siang) dan 40 malam. Tidakkah hal ini sangat memberatkan? Tubuh manakah yang dapat bertahan selama 40 hari dan 40 malam tanpa sebutir nasi? Hal ini kemudian menjadi suatu tindakan puasa yang luar biasa. Yesus bertahan dalam kondisi tidak makan apa-apa. Apakah Anda dapat mengikuti cara ini?

Padahal puasa yang dilakukan Yesus bukan sesuatu yang luar biasa, puasa makan. Yesus tidak mengalami kekurangan cairan (dehidrasi) dalam tubuh-Nya selama 40 hari dan 40 malam. Namun, satuan waktu untuk tidak makan apa-apa itu sangat lama, sehingga akhirnya Ia lapar. Ketika lapar, Iblis pun mendatangi-Nya dengan godaannya.

Musa pernah dua kali berpuasa dengan satuan waktu seperti itu, 40 hari dan 40 malam. Puasa untuk menerima Hukum-hukum Tuhan (Ul.9:9) dan puasa untuk menebus dosa-dosa umat Israel yang membangun anak lembu emas dan menyembah kepadanya (Ul.9:18).

Kota Niniwe pernah berpuasa demi mengetahui bahwa Tuhan akan menghukum mereka jika masyarakat kota itu tidak bertobat (Yunus 3).

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para tokoh dan masyarakat kota atau tempat tertentu di dalam catatan Alkitab tentang puasa.

Melaksanakan Maklumat dan Himbauan Bupati dan Walikota

Kembali ke topik Anda sudah berpuasa? Jika mengantarkan kalimat tanya itu untuk masuk ke dalam Maklumat dan Himbauan Bupati Rote-Ndao dan Walikota Kupang, pertanyaannya menjadi, Apakah Anda sudah berpuasa mengikuti Maklumat Bupati Rote-Ndao? Atau, Apakah Anda sudah berpuasa mengikuti Himbauan Walikota Kupang?

Sebagai masyarakat di Kabupaten Rote-Ndao dan Kota Kupang, siapakah yang sudah berdoa dan berpuasa? Mungkin ada di antaranya. Kita patut bertanya, apakah Bupati Rote-Ndao, Paulina Haning-Bullu, SE dan Walikota Kupang, Dr. Jefry Riwu Kore sudah berdoa dan berpuasa? Sejujurnya pasti kita mendapatkan jawaban, sudah berdoa dan berpuasa. Kita ajukan pertanyaan berikutnya, berapa lama waktu yang dipakai berpuasa? Kemudian, pendekatan manakah yang dipakai? Apakah tidak makan dan tidak minum, atau makan dan minum sebahagian? Apakah doa dan puasa sambil tetap bekerja atau seluruhnya komponen harus “tiarap” dalam doa dan puasa seperti raja dan masyarakat kota Niniwe?

Saya ingat himbauan MS GMIT ketika pandemi mulai merambah tiba di wilayah pelayanannya. Seluruh Jemaat diminta berdoa setiap jam 9 malam. Lonceng-lonceng gereja dibunyikan. Pada setiap jam 9 malam warga GMIT di tiap rumah tangga berkumpul, membaca alkitab, bernyanyi, dan berdoa. Lalu, kini kita bertanya, apakah pendekatan itu masih berlangsung sampai sekarang, atau jemaat-jemaat dalam lingkungan pelayanan GMIT sudah enggan melakukannya?

Kembali kepada masalah berdoa dan berpuasa sebagaimana yang dimaklumatkan dan dihimbaukan oleh kedua Kepala Daerah itu. Kita belum mendengar cerita atau membaca berita tentang dampak dari doa dan puasa sebagaimana maklumat dan himbauan itu. Kedua Kepala Daerah sebagai orang ber-Tuhan sudah melakukan suatu tugas yang teramat berbeda. Menyurati para pemimpin organisasi keagamaan dan masyarakatnya untuk berdoa dan berpuasa. Dogma puasa antarumat beragama saling berbeda, sehingga tidak secara mudah maklumat dan himbauan itu dapat dilaksanakan. Bahwa berdoa saja belum tentu dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengaku ber-Tuhan, lalu bagaimana berpuasa? Siapakah yang menjadi petugas monitoring pelaksanaan doa dan puasa di tengah-tengah masyarakat? Maklumat dan himbauan itu bersifat moral dan etis belaka. Masyarakat dapat atau tidak melaksanakannya, tidak satupun di antara kedua pejabat itu yang dapat menjatuhkan sanksi.

MS GMIT bukan organisasi keagamaan yang boleh diatur oleh Pemerintah. Sinergi dan koordinasi antar institusi pemerintah dan organisasi keagamaan (dhi. MS GMIT) menjadi pendekatan berharga. Maka, MS GMIT mengeluarkan surat tertanggal 11 Februari 2021 yang isinya mengajak anggota dalam Jemaat-Jemaat GMIT untuk berpuasa setiap hari Jumat selama 7 kali Minggu Sengsara.

Apakah surat dari MS GMIT segera tiba di tangan para Ketua Majelis Klasis dan Ketua Majelis Jemaat untuk segera diwartakan dan diikuti dengan pelaksanaannya?

Mungkin sudah, mungkin belum. Mungkin ada yang melaksanakan secara baik pada hari Jumat Minggu Sengsara I, dan seterusnya sampai 7 kali hari Jumat.  Lalu kita akan melihat dampaknya.

Saya menyadari bahwa berdoa dan berpuasa bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan. Pemerintah hanya dapat menghimbau, demikian pula Majelis-Majelis secara berjenjang (MS, MK, MJ). Himbauan itu selalu bersifat moral dan etika. Himbauan itu harus diikuti dengan tindakan nyata dari mereka yang memberikan himbauan.

Oleh karena itu, kiranya kita perlu merenung lagi pada kata-kata Yesus

“Dan apabila kamu berpuasa, janganah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu.” (Mat.6:18-18).

Saya akhiri tulisan saya ini di sini. Kiranya MS GMIT dan para Kepala Daerah yang merindukan adanya puasa, mungkin perlu duduk bersama mengkaji dampak dari maklumat dan himbauan untuk berdoa dan berpuasa. Duduk bersama itu perlu pula dihadiri pemimpin organisasi keagamaan lainnya seperti Keuskupan Agung, Sinode Gereja Denominasi, Majelis Ulama Indonesia wilayah, dan lain-lain.

Hal berdoa, siapapun dapat melakukannya, tetapi hal berpuasa, tidak semudah mengatakannya. Bukankah ada kondisi tertentu yang kiranya mesti menjadi perhatian dalam berpuasa?

Mari, bila masyarakat Rote-Ndao dan Kota Kupang sudah dihimbau dan mungkin ada yang melakukannya. Bila anggota-anggota dalam jemaat-jemaat GMIT telah dimintakan berpuasa tujuh kali dalam perayaan tujun Minggu Sengsara Yesus, mungkin sudah ada yang melakukannya. Saya lebih sadar bahwa saya tidak dapat melakukannya. Sementara itu, Anda sudah berpuasa?

 

Koro’oto, 19 Februari 2021

Heronimus Bani

Pendeta Robot Berlaga

Pengantar

Robot dengan nama BlessU-2 mungkin merupakan robot pertama yang diperkenalkan Gereja di Jerman pada tahun 2017 ketika merayakan 500 tahun Reformasi. Robot BlessU-2 dapat mengucapkan berkat kepada umat/jemaat dalam empat bahasa yakni: Jerman, Inggris, Spanyol, dan Polandia. Robot ini dipamerkan dengan tujuan mengundang dan memicu perdebatan.

“Gagasan utamanya adalah untuk memicu perdebatan,” kata Stephan Krebs, salah satu penggagas pembaruan itu, sebagaimana yang diwartakan The Guardian, Selasa (30/5/2017).

Sekalipun mereka hanya tiba pada pemikiran itu, tetapi tidakkah itu sudah memicu polemik?

Robot sebagai Produk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan seni tidak stagnan dalam perkembangannya. Selalu ada hal baru yang terus-menerus mencengangkan ketika orang tidak segera mengikuti perkembangannya. Satu produk tertentu selalu didasarkan pada hasil kajian ilmiah yang telah melewati prosedur percobaan berkali-kali sebelum dibawa ke ranah publik.

Robot sebagai salah satu produknya. Apa itu robot? Pertanyaan yang akan dengan mudah dijawab oleh awam sekalipun. Tetapi, apakah para awam sudah memanfaatkan robot dalam keseharian? Jawabannya, relatif. Nah, kembali ke pertanyaan di atas, apa itu robot?

“Robot adalah peralatan yang mampu melakukan fungsi-fungsi yang biasa dilakukan oleh manusia, atau peralatan yang mampu bekerja dengan intelegensi yang mirip dengan manusia.” Definisi ini dibuat oleh Computer Aid Manufacturing International, suatu perusahaan yang menciptakan robot untuk membantu manusia dalam tugas-tugasnya. Sementara itu Robotics Institute of America (RIA), membuat definisi yang kurang-lebih sama dengan CAM-I. Robot adalah peralatan manipulator yang mampu diprogram, mempunyai berbagai fungsi, yang dirancang untuk memindahkan barang, komponen-komponen, peralatan, atau alat-alat khusus, melalui berbagai gerakan terprogram untuk pelaksanaan berbagai pekerjaan.

Memperhatikan definisi dan perkembangan penciptaan robot di berbagai bidang kehidupan manusia, robot secara fakta sangat membantu manusia khususnya pada tugas-tugas yang membahayakan, atau mengancam nyawa. Perkembangannya makin gencar, walaupun seorang ahli bernama Prof.Pitoyo Hartono mengatakan, untuk menciptakan satu robot yang mirip manusia berjalan, dibutuhkan waktu selama 40 tahun, lalu membandingkannya dengan seorang anak yang sudah dapat berjalan ketika sudah berumur 2 tahun. Perbedaan yang sangat menyolok.

Penciptaan robot untuk menggantikan tugas dan fungsi yang semestinya dilakukan oleh manusia berdampak positif dari aspek kemanusiaan, yaitu memelihara kehidupan agar manusia yang melakukan tugas-tugas membahayakan itu merasa aman. Padahal, secara ekonomi dampaknya ada pada tergerusnya profesi tertentu dimana orang seharusnya berada di posisi itu, justru digantikan oleh robot. Robot tidak perlu digaji, manusia yang melaksanakan tugas itulah yang mesti digaji. Keuntungan diperoleh pada pengusaha yang memanfaatkan jasa dari robot.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa robot telah bekerja di berbagai bidang tugas. Industri-industri besar dan menengah, bahkan kini telah merambah sampai kepada pelayanan yang bersifat humanis. Rumah makan dan rumah sakit pun sudah ada yang mempekerjakan robot sebagai tenaga kerja. Lantas, apakah gereja akan mempekerjakan robot sebagai pelayan Firman Tuhan?

Robot sebagai Pelayan Firman Tuhan?

Kembali ke awal artikel ini ketika satu Gereja di Provinsi Hesse-Nasau Jerman memperkenalkan Robot yang melayani umat. Robot ini dapat diatur untuk mengikuti minat umat, misalnya dengan memintanya bersuara laki-laki atau perempuan. Ia dapat mengucapkan ayat-ayat alkitab yang dimintakan oleh umat, dan jika diperlukan ia mencetaknya pada lembaran-lembaran kertas untuk dapat dibaca oleh mereka yang memintanya. Ia dapat mengucapkan berkat kepada umat dengan kata-kata, “Tuhan memberkati dan melindungi.”

Jika robot dapat melakukan tugas dan fungsi sebagaimana manusia, hal ini bukan sesuatu yang tabu sebagaimana sudah diurai secara singkat tadi. Bahwa suatu tugas yang dianggap membahayakan atau mengancam jiwa manusia, di sana robot boleh mendapatkan posisi itu sekalipun ada plus-minusnya. Lalu, tugas pewartaan dan penggembalaan bila diserahkan kepada robot, apakah menjadi sesuatu yang wajar pada zaman ini?

Gereja Protestan di Provinsi Hesse-Nasau Jerman sudah mempelopori adanya robot sebagai pelayan umat. Mereka telah mengundang polemik di sana, dan mungkin juga di dunia kekristenan pada umumnya. Sebagai awam saya belum melihat polemik itu di sekitar gereja di Indonesia hingga GMIT. Semoga saya keliru. Tetapi, satu hal yang sangat pasti, kecepatan merambatnya produk-produk teknologi di segala bidang kehidupan akan merambah sampai kepada gereja di Indonesia, termasuk gereja-gereja di Timor (GMIT).

Pada masa kini dan nanti ketika berbagai virus mendera alam semesta dengan menebar ancaman kematian secara masif, robot menjadi pilihan pelayanan. Robot sebagai barang mahal dan mewah, tetapi sekaligus tidak akan terpapar virus yang menyerang tubuh manusia. Ia terprogram secara tetap untuk melakukan tugas-tugas secara tetap.

Para pendeta dapat menulis khotbah yang diinjeksikan dalam chip milik sang robot yang memiliki daya ingat dan simpan secara artifisial dalam waktu yang lama. Ia dapat dimintakan untuk mengulang lagi, dan lagi selama masih ada kerinduan untuk mendengar atau menyaksikan suatu vidio pelayanan yang dibawa dalam program milik sang robot pelayan. Lalu, pendetanya akan duduk manis tanpa mencemaskan kesehatannya karena telah digantikan oleh robot. Robot dapat disentuh. Ia pun dapat menyentuh mereka yang ditemui, menyalami dengan doa dan berkat. Doa dan berkat telah pula diprogram, penggunanya tidak mengalami kesulitan karena semuanya telah terprogram sehingga kemudahannya adalah, klik.

Apakah kelak hal seperti itu yang akan berlaku di dalam gereja-gereja di dunia ini? Apakah mesin yang akan memimpin penyembahan kepada Tuhan yang diimani sebagai Yang Hidup. Jadi perantara kita dengan Tuhan adalah benda tanpa nyawa tetapi bernaluri ipteks. Ia tanpa sel darah, aliran darah dan tanpa perubahan rona pada wajahnya. Emosinya selalu stabil saja, kering. Dinamika suaranya dapat naik-turun seturut program. Lalu manusia akan bertingkah di depannya mengikuti aba-abanya. Akankah kita sama seperti kaum Isra’el (Ibrani) yang membuat anak lembu emas?

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami, … (Kel.32:1a)

Tengokahlah frase yang akan berjalan di depan kami… Ketika salah satu di antara kita menjadi pemimpin, ada masanya merasa bosan, muak dan tidak nyaman dengannya. Saat pemimpin yang satu tidak lebih baik daripada pemimpin yang lainnya, senantiasa ada konflik kepentingan di dalamnya. Lalu, siapakah yang dapat menjadi penengah? Rupanya, benda yang dapat diciptakan manusia merupakan solusinya. Lantas,apakah ciptaan itu dapat memberi solusi terbaik? Alkitab berkata,

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: ‘Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” (Kel. 32:7-8)

Benda ciptaan manusia menjadi pemimpin, berdiri di depan mereka. Ia tidak berkata-kata, tetapi dikagumi dan dihormati. Tuhan bekata, manusia seperti itu telah rusak lakunya, menyimpang dari jalan yang diperintahkan-Nya.

Dari aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, benda ciptaan itu, anak lembu emas dan robot tentulah suatu mahakarya seni dengan ide brilian. Tetapi, tentang menjadikannya pemimpin, apalagi menjadi tuan, Tuhan yang disembah, hal itu telah merusak akhlak, merombak keimanan kepada Tuhan yang diyakini sebagai sumber hidup dan Pencipta segala sesuatu. Bahwa robot dapat diprogramkan untuk berbicara dengan manusia, ya. Tetapi, bukankah robot tak memiliki emosi (perasaan)?

Suatu pelayanan gerejawi yang bernilai terletak pada pertemuan yang intens antar orang perorangan, kelompok hingga komunitas. Setiap pendeta memiliki metode dan dinamika yang saling berbeda untuk menyampaikan ulasan Firman Tuhan. Mereka mempunyai perasaan yang kiranya tergambarkan dari kata-kata yang diucapkannya, mimik dan gesturnya. Yesus bertemu, berbicara dan bahkan melakukan sesuatu pada orang-orang yang ditemui-Nya. Ia bahkan mengecam kita bila dengan kata-kata,

… Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak … (Luk.19:40)

Jadi, jika umat/jemaat yang menyembah Tuhan di dalam persekutuan ibadah (misa, kebaktian) kelak akan digantikan oleh robot, bukankah kata-kata Yesus telah terbukti. Robot berbicara tanpa emosi (perasaan). Ia memimpin penyembahan kepada Tuhan. Manusia tunduk mengikuti aba-aba karena kebodohannya sendiri. Manusia menciptakan benda dan menempatkannya sebagai pemimpin atau perantara pada tugas-tugas dan fungsi pelayanan yang membutuhkan sentuhan perasaan. Batu akan berteriak, robot pelayan gerejawi akan berbicara secara terprogram. Ia akan mengikuti kemauan umat atau jemaat. Bukankah ini suatu perkembangan dalam peradaban yang merusak laku dan akhlak manusia khususnya dalam kehidupan keimanan?

Penutup

Akhir-akhir ini pendekatan protokol kesehatan makin diperketat. Kegiatan apapun harus mematuhi protokol kesehatan, terlebih bila harus berurusan dengan banyak orang yang berpotensi adanya kerumunan. Persekutuan Ibadah (misa, kebaktian) umat/jemaat secara live streaming menjadi solusi untuk mencegah kerumunan massa. Hal ini tentu baik adanya demi memelihara kehidupan yang Tuhan berikan pada umat-Nya.

Keseringan atau bahkan selalu berada dalam situasi beribadah dalam jaringan (live streaming) akan berdampak pada ikatan emosional yang makin mengendur. Hubungan antarpersonal makin kendur sekalipun telepon dan berbagai aplikasi memudahkan.

Robot menjadi solusi berikutnya yang sekaligus akan menjadikan akhlak dan laku kita makin rusak saja. Gereja-gereja di Indonesia (salah satunya GMIT) belum sampai pada titik dimana robot menjadi pilihan pengganti manusia sebagai pelayan. Kecanggihan alat ciptaan manusia ini akan sampai di kota-kota dalam industri menengah termasuk layanan publik untuk mencegah merambatnya virus penyebar penyakit pemusnah massal.

Mari kita terus berada di Jalan Lurus milik Tuhan. Ia tidak menghendaki ciptaan-Nya menciptakan alat, benda atau barang yang kiranya menjadi kebanggaan semu, lalu pada saat yang sama melupakan Tuhan. Alat, benda atau barang ciptaan manusia berguna untuk manusia dalam fungsi terbatas. Ia tidak mengantar manusia memahami dan mendalami imannya.

 

Koro’oto, 18 Februari 2021
Heronimus Bani

 

 

 

 

 

Kasih Sayang Manakah yang Dapat Memulihkan?

 

Hari ini, Minggu (14/02/21) bangsa mana pun sedang mengingat satu hari raya yang tidak sama persepsinya pada para pelaku perayaannya. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden memberikan pesan pada dunia menjelang hari Valentine 2021 ini. Katanya, persatuan, kebaikan, penyembuhan dan kasih-sayang.

Banyak sastrawan dunia memiliki persepsi dan pandangan sendiri-sendiri tentang cinta dan kasih-sayang. Begitu banyaknya sehingga bila harus mengutip betapa halaman ini tidak cukup untuk memuat semua pandangan itu.

Aku mencintai lebih daripada kata-kata yang dapat menguasai masalah, lebih mahal daripada penglihatan, ruang dan kebebasan. (W.Shakespare)

Di sini Shakespeare sastrawan Inggris yang terkenal dengan kisah Romeo dan Juliet hendak menggambarkan bahwa kata-kata itu sesuatu yang hebat, yang olehnya segala masalah dapat dikuasai dan diatasi. Tetapi, cinta masih lebih kuat kuasanya.Penglihatan, ruang danidan kebebasan itu mahal, tetapi cinta lebih mahal daripada ketiganya itu. Rasanya logika tidak dapat secara mudah menyerap kata-kata ini.

Kita lihat kata-kata Sastrawan dunia yang satu ini, Kahlil Gibran

Cinta itu ibarat air abadi yang selalu mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga. Bagaikan anggur nikmat yang manis di bibir, menghangatkan badan, tetapi tidak jarang memabukkan.

Dapatkah dengan mudah memahami kata-kata Kahlil Gibran?

Siapakah yang mengetahui akan air abadi itu seperti apa? Kekristenan mengakui kata-kata Yesus Kristus sebagai Air Hidup ketika Ia berbicara dengan seorang perempuan Samaria di suatu tempat dimana ada sumur. Perempuan itu tidak mengenal dan mengetahui tentang siapakah Yesus. Percakapan keduanya tentang bagaimana mendapatkan air minum di sumur itu. Lalu Yesus berkata,

…tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yoh.4:14)

Jadi, bila memahami kata-kata Kahlil Gibran, baiknya kita ingat Yesus. Hanya Dia yang dapat memuaskan dahaga.

Tentang cinta yang digambarkan sebagai anggur oleh Kahlil Gibran, kita pun ingat, bahwa air anggur memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi menyehatkan tubuh bahkan meningkatkan imunitas tubuh, padahal di sisi sebelahnya menimbulkan permasalahan besar bila menenggak dalam jumlah besar. Karena itu Kahlil Gibran mengingatkan bahwa cinta yang kita miliki dan hendak dibagikan kepada seseorang atau sesama, baiklah dapat dinikmati sebagai yang menghangatkan kehidupan bersama. Cinta yang merekatkan hubungan. Cinta yang membangun kebersamaan,bukan sebaliknya cinta yang memisahkan. Mereka yang mabuk anggur sangat sering meninggalkan persoalan di sekitar kehidupan bersama. Persoalan-persoalan itu merenggangkan hubungan yang terajut baik dengan cinta sebagai perekatnya.

Yesus Kristus hadir sebagai anggur yang mengandung unsur kedamaian. Ia memberikan anggur pada para murid-Nya untuk diminum. Anggur dalam tradisi Yahudi (Ibrani) diminum sebagai lambang darah domba yang menyelamatkan mereka ketika harus keluar dari Mesir pada saat-saat genting. Yesus berkata,

“Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”(Mrk 14:24-25)

Yesus, pada Minggu Sengsara I, tahun 2021 ini mengingatkan kita akan Cinta-Nya yang tak dapat diukur, ditakar dan ditimbang. Kata-kata Kahlil Gibran bergema diingat sepanjang sejarah adanya manusia beriman, tetapi Gibran hanya sampai pada perkataan dan pernyataan yang teramat mengesankan. Yesus melebihinya. Ia tidak saja berkata, tetapi juga membuktikan kata-kata-Nya.

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.(Yoh 15:13)

Yesus membuktikan kata-kata-Nya. Ia tidak berlaku seperti kita, sesama manusia. Kita memberikan cinta dan menuntut cinta itu dikembalikan bahkan jika mesti berlebih, harusnya dapat diwujudkan. Mari lihat kata-kata tokoh emansipasi Indonesia, RA Kartini.

Cinta menimbulkan cinta kembali; tetapi pandangan yang merendahkan tidak akan menumbuhkan rasa cinta.

Bagaimana menurut Anda sekarang? Apakah Anda merindukan suatu suasana pemulihan hubungan cinta di hari Kasih-Sayang ini dengan menghadirkan cinta yang bertepuk sebelah tangan? Apakah Anda menghabiskan waktu membagi cinta dengan seseorang lantas ada pengorbanan yang telah disia-siakan lantas pada saat ini Anda merindukan kebahagiaan?

 

Cinta, Kasih-Sayang seperti apakah yang dapat memulihkan dan merekatkan lebih lekat hubungan antarsesama? Mari bawa cinta kita kepada Yesus Tuhan, Ia pulihkan dengan energi baru terbarukan.

 

 

Koro’oto, 14 Februari 2021

Heronimus Bani