Babak Akhir Pembulian Yesus di Golgota

Pada suatu hari Jumat, ketika itu Pontius Pilatus menjadi Gubernur (wakil Pemerintah Kekaisaran Romawi) di Propinsi Yudea. Ketika Jumat itu tiba, kepada sang Gubernur kaum Yahudi memperhadapkan kepadanya seseorang yang oleh mereka telah diadili menurut hukum agama Yahudi. Pengadilan itu berlangsung secara adil menurut mereka, ketika mereka mendapatkan jawaban “pembelaan” dari Yesus.

“Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekrang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat.26:64)

Merunut waktu ke belakang, pernyataan Yesus sebagaimana dicatat Matius di atas, kiranya terjadi pada beberapa jam pada malam sebelumnya, lalu ketika pagi tiba mereka menghadapkannya kepada Pontius Pilatus. Pagi itulah hari Jumat. Pengetahuan kita tentang waktu saat malam itu ada dalam catatan Matius, Markus, Lukas dan Yohanis tentang kokok ayam. Pada saat ayam berkokok, Petrus ingat tentang perkataan Yesus, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali (Mat.26:75).

Keputusan Mahkamah Agama diambil secara cepat. Malam hari mereka membuka sidang pengadilan terhadap Yesus, pagi hingga siang mereka kembali berkumpul. Pada pertemuan kedua ini mereka mengambil keputusan untuk membunuh Yesus (Mat 27:2).

Cerita selanjutnya dapat kita baca sebagaimana yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mereka mencatat dalam versi mereka tentang bagaimana Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus. Di hadapan sang Gubernur mereka mengajukan berbagai tuduhan yang mendiskreditkan Yesus. Mereka pun menyampaikan bahwa Yesus pantas dan layak dihukum mati.

Yohanes memberi informasi menarik tentang dialog Pilatus versus Yesus. Suatu percakapan yang tidak sempat ditulis oleh penulis Injil Matius, Markus dan Lukas. Pilatus menanyakan asal dan status Yesus di tempat asalnya. Yesus memberikan jawaban yang tidak dapat dipahami oleh Pilatus,

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”
Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?”
Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
Kata Pilatus kepada-Nya, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh.18:36-38a)

Apakah seorang Gubernur sama sekali tidak paham tentang kebenaran?

Dalam kebingungan, Pilatus pergi menemui orang-orang Yahudi dan menyampaikan bahwa ia tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus. Tetapi, desakan orang-orang Yahudi yang disponsori para pemimpin agama dan tokoh-tokoh masyarakat, Yesus akhirnya harus memanggul palang salib. Palang salib itu dipanggul keluar dari kota Yerusalem. Di luar kota, Yesus menerima hukuman mati itu bersama-sama dengan dua orang penjahat.

Yesus membiarkan Diri-Nya menjadi korban konspirasi antara Yudas Iskariot dengan para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat Yahudi. Mereka memperalat kekuasaan untuk menghukum Yesus. Ketika Pilatus sebagai pemegang kekuasaan kekaisaran Romawi memberikan keluasan untuk menghukum Yesus, kaum Yahudi merasa telah menang dalam konspirasi itu.

Babakan akhir dari seluruh konspirasi itu terjadi di Bukit Golgota. Siapakah yang menanggung dampak konspirasi itu?

  • Yesus menanggung konspirasi itu dengan memikul salib. Sebelum tiba di tempat penyaliban itu, Ia telah menerima berbagai hojatan dan hinaan, siksaan dan sesahan. Ia menerima semua itu tanpa memberikan perlawanan sedikit pun. Ia bahkan mendoakan mereka yang memperlakukan Diri-Nya sebagai seorang penjahat sehingga mensejajarkannya dengan dua orang yang pantas menerima hukuman mati itu. Yesus menanggung dampak konspirasi itu dengan kematian.
  • Yudas Iskariot. Ia menyerahkan kembali uang hasil penjualan Yesus. Ia menyesal dan membuat pernyataan bahwa ia telah berdosa (Mat.27:4). Ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri.
  • Para murid. Mereka melarikan diri (Mat 26:56), tidak berani mendekat ke dalam ruang sidang Mahkamah Agama. Perempuan-perempuan yang mengikut Yesus berdiri jauh-jauh. Mungkin saja para murid Yesus yang semuanya laki-laki berdiri di belakang para perempuan, seperti yang terbaca ketika Yesus berbicara dengan Maria ibu-Nya dan Yohanes (Yoh.19:25-27). Pada situasi itu, nyali para lelaki ciut lalu membiarkan para perempuan menjadi “umpan” kepongahan kaum Yahudi.
  • Bait Allah, tempat Maha Kudus tersibak. Jika tempat itu hanya boleh dikunjungi sekali setahun oleh orang terpilih dengan cara undian. Kini tempat maha kudus itu tidak lagi menjadi tempat khusus yang istimewa. Keistimewaan tempat itu telah tergadaikan agar semua orang dapat langsung menghadap Tuhan Allah sang Khalik melalui Yesus.

Babak akhir dari semua itu, kaum yang tidak mengenal Tuhan tergerak hati. Kepala pasukan Romawi yang memimpin penyaliban Yesus mengakui Yesus, sungguh Anak Allah. Bagaimana tidak? Ketika Yesus disalibkan, ada fenomena alam yang tidak biasa terjadi di sana. Panas terik, berubah menjadi mendung hingga gelap. Matahari bagai tidak sudi memberikan pancaran panas pada tubuh yang sedang tersiksa hingga mati. Matahari bagai malu melihat kedurjanaan dan kedurhakaan kaum Yahudi yang mengaku sebagai agamawan yang monoteis. Matahari menutup matanya untuk tidak melihat ketelanjuran para serdadu yang diindoktrin dengan konspirasi untuk membunuh Yesus dengan cara keji.

Satu babak akhir yang mencekam. Banyak orang menyesal atas ide yang mereka bangun dengan opini-opini yang mendiskreditkan kaum terpinggirkan di bawah kepemimpinan Rabi Yesus. Mereka berasal dari kalangan bawah. Opini dibangun oleh mereka yang berada di level menengah ke atas dengan status sosial dan ekonomi yang mapan. Mereka kalangan terdidik dan terhormat. Sementara pengikut Yesus, kaum lemah. Kalangan yang tinggal di kolong kemelaratan sambil menengadah dan menadahkan tangan kepada konglomerasi agama.

Hari ini, Jumat yang sesungguhnya biasa saja. Kaum Kristen melabelinya sebagai Jumat Agung. Jumat yang berbeda dari Jumat yang lainnya. Pada Jumat yang satu ini, Rabi Yesus membiarkan Diri-Nya disalibkan. Ia menyerahkan jiwa dan raga-Nya untuk dikorbankan. Tubuh-Nya hancur karena dicambuk dan dipakukan. Darah-Nya dicurahkan. Darah yang demikian itu sebagai “air” pembasuh dosa makhluk istimewa ciptaan Tuhan, manusia.

Adakah padamu refleksi pada hari ini?

 

 

Koro’oto, 2 April 2021
Heronimus Bani