Bukankah Hidup itu Lebih Penting?

Bukankah Hidup itu Lebih Penting?

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? (Mat 6:25)

Pengantar

Makhluk manusia sebagai ciptaan paripurna sang Khalik, Tuhan Allah, hidup dalam “kemewahan” karena segala sesuatu telah tersedia baginya. Mereka tidak harus membuang-buang energi, daya dan bergaya seheboh-hebonya untuk mengambil hal kebutuhan hidupnya. Semuanya telah disediakan oleh sang Khalik. Mereka cukuplah berkeliling dan menyusuri Taman Eden, memberikan nama pada tetumbuhan, pepohonan dan ternak baik liar maupun jinak, lalu mengambil hasil dari semuanya itu sebagai kebutuhan. Suatu kemewahan dan keistimewaan, bukan?

Kejatuhan manusia dalam rayuan kecerdikan muslihat Iblis berwujud ular berujung pada dipeluknya seluruh rasa dan raganya ke dalam kuasa dosa. Maka, akhirnya makhluk manusia harus berjerih-lelah bahkan berdarah dalam onak dan duri di area profesi kehidupan pada setiap titik waktu. Pada titik waktu berikutnya yang tidak tentu kapan itu akan berakhir, namun ada dalam kepastian bahwa kehidupan yang melelahkan berakhir pada kematian.

Rabi Yesus dalam suatu kesempatan mengajarkan, bukankah hidup itu lebih penting?

Ya sederhana kelihatannya. hidup lebih penting daripada makanan dan pakaian (bahkan tempat berteduh, rumah). ilmu ekonomi menempatkan kedua hal itu, makanan dan pakaian dan rumah tempat tinggal sebagai kebutuhan utama (prioritas, primer). Sebagai kebutuhan utama atau primer wajib hukumnya untuk dipenuhi, paling kurang dua hal pertama, makanan dan pakaian, sedangkan rumah tempat tinggal boleh dapat dipenuhi sesudah kedua hal itu terasa sudah cukup. Maka, tidak mengherankan orang membangun rumah secara perlahan hingga mendapatkan rumah yang layak huni, atau bila mendapatkan rumah layak huni, orang terpaksa melilitkan diri pada hutang cicilan perumahan.

Bukankah hidup itu lebih penting? Demikian Rabi Yesus bertanya, yang oleh karenanya kita tidak secara serampangan memberi jawaban, Ya! Bila sudah memberikan jawaban, ya, maka konsekuensi jawaban itu mesti jelas. Mengapa, ya?

Lama hidup yang Bermakna

Hidup. Ya, satu kata yang secara leksikal mempunyai beberapa makna, di antaranya terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Kata hidup selalu berhubungan dengan makhluk hidup. Hanya makhluk ciptaan Tuhan yang hidup. Mereka itu antara lain manusia, hewan dan tumbuhan. Hewan atau binatang secara lokus, ada binatang di darat dan ada pula binatang di air (laut/samudra, sungai, danau, dan tegalan). Sementara tetumbuhan akan tumbuh dan hidup dengan kategori-kategori, homogen dan heterogen sampai menghutan dengan sebutannya masing-masing.

Hidup itu bermakna. Bukankah manusia pertama telah menunjukkan kepada kita cerita hidup mereka di Taman Eden kebahagiaan? Bukankah hidup itu menjadi bermakna bila manusia memberi makna padanya dengan karsa dan karya? Maka, ketika orang melewati masa hidup dalam rentang waktu tertentu di sana ada sejumlah hal yang menjadikannya bermakna pada jarak titik waktu yang satu ke titik waktu yang lainnya.

Menurut  Kejadian 6:3, manusia itu umurnhya akan seratus dua puluh tahun saja. Tengok ayat alkitab itu,

‘Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

Versi terjemahan di atas dapat dibaca dalam New King James Version (NKJV), namun mengalami perbedaan pada teks berbahasa Amarasi sehari-hari

And the Lord said, “My Spirit shall not strive with man forever, for he is indeed flesh, yet his days shall be one hundred and twenty years.”

 

Rarit UISNENO  nak, “Au ‘hae ‘maet jen nok mansian ii sin a’monit amre’ut. Au Smanak re’ namonib sin naan, ka nroim fa he sin nmonin piut. Sin ro he nmaten. Onaim sin nmoni ntu’un toon nautn es bo’ nua goah (120).”

Teks berbahasa Amarasi di atas sama dengan teks Berbahasa Melayu Kupang yang nampak seperti ini,

Ais ju TUHAN bilang, “Beta su cape deng manusia pung idop yang harba-biruk. Beta pung Ro yang kasi idop sang dong tu, sonde mau kasi tenga dong idop tarus lain, Dong musti mati. Jadi nanti dong cuma idop sampe 120 taon sa.”

Terlepas dari perbedaan pada teks terjemahan, di sana ada satu item yang sama yaitu lama hidup manusia 120 tahun saja. Sesungguhnya 120 tahun saja itu suatu jarak waktu yang lama (panjang, jauh). Ia bukan bagai waktu antar para petugas piket jaga di antara batas waktu, lantas selesai. Ia merupakan satu satuan waktu yang, sekali lagi, lama (panjang, jauh).

Tetapi, kaum Nasrani justru lebih menghafal dan ingatan komunal mereka jatuh pada umur manusia 70 tahun dan selebihnya merupakan “bonus” kehidupan. Mereka selalu mengutip Mazmur 90:10

Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap

Apakah kedua ayat alkitab di atas (Kej.6:3 dan Maz 90:10) merupakan dua hal yang tidak saling berhubungan?

Ya, secara tekstual saja sudah amat jelas, yang satu menunjuk angka 120 tetapi menggunakan term saja, dengan memahami latar belakang sebelum sampai pada term itu, sementara yang satunya lagi bersifat metafor perbandingan sesungguhnya bila orang membaca secara keseluruhan teks. Jadi, semestinya orang tidak serta merta membuat kesimpulan bahwa orang yang hidup sampai mencapai umur 70 itu batas akhir dan bila melewatinya, maka hal itu adalah “bonus”. Darimanakah datangnya istilah bonus itu, sementara teks itu tidak mencantumkan bonus.

Mari menelisik makna latar belakang. Pada kitab Kejadian 6, jauh sebelum Nuh, umur manusia untuk sampai pada batas akhir kehidupannya yaitu kematian, bahkan mencapai 800 sampai 900 tahun. Semakin berketurunan bertambah banyak, umur manusia tertua bukanlah mencapai angka itu, tetapi makin menurun hingga seratusan tahun saja. Mengapa? Kejadian 6 : 3 pada frase awal menjelaskannya pada kita. Roh Tuhan tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena mereka itu adalah daging. Roh Tuhan yang menempati bangunan yang dibuat Tuhan makin lama makin “keropos”. Roh Tuhan bekerja pada bangunan yang kokoh dan kuat. Tidakkah Roh Tuhan dapat menguatkannya? Jawabannya, ya. Tetapi, apakah daging dan tulang keropos akan mampu bangkit untuk bekerja? Tidak, bukan? Pertanyaan menarik lainnya, akan mengantar pada diskusi yang tak akan habis-habisnya sebagai satu “ketegangan” ide berpandangan. Tuhan membangun, menciptakan dengan tangan-Nya sendiri, namun yang diciptakannya itu ada batas waktu berakhir. Ia menciptakan keturunan dari yang ciptaan-Nya itu, ciptaan baru ada dalam kesegaran tubuh dan rohnya, lalu Roh Tuhan mengambil tempat di dalam tubuh (daging) hidup yang segar untuk karsa dan karya.

Pada Mazmur 90, di sana ada nyanyian kehidupan yang didendangkan sambil membandingkan kehidupan manusia yang bagai bunga dan rerumputan, hingga perbandingan sebagai debu belaka. Memang patutlah orang menyadari akan perbandingan ini. Bunga dan rerumputan manakah yang bertahan hidup ketika disengat terik matahari? Ia segera layu dan akhirnya tidak bertahan lama untuk rontok. Lantas apakah kehidupan di atas 70 atau selebihnya yang disebutkan sebagia bonus itulah yang disebut penderitaan? Jawabannya, tidak! Kualitas hidup makhluk manusia ditentukan oleh dirinya dalam kerangka penyerahan diri seutuhnya ke dalam tangan dan pimpinan Tuhan. Sementara akhir hidup manusia, tidak dapat diketahuinya secara pasti kapan gugurnya. Saat menjelang gugurnya kelopak-kelopak bunga, angin senja memainkannya bahkan bila hujan deras disertai angin kencang, justru mempercepat jatuhnya kelopak-kelopak bunga hingga patah terkulai. Bila sejumlah kelopak jatuh pada saat disengat panasnya matahari, betapa keringnya. Ia akan ditiup angin menuju arah yang tidak diketahuinya. Manakala hal itu terjadi, di sana kesedihan pemilik bunga terlihat.

Dua hal yang kiranya saling berhubungan, bukan? Tuhan menentukan batas akhir kehidupan, ketika Roh Tuhan keluar dari dalam daging yang makin keropos. Roh Tuhan yang menempati daging itu kembali kepada Tuhan sendiri, bunga yang layu dan gugur, jatuh ke dalam tanah. Di sana butiran benih akan menumbuhkan bunga-bunga baru yang lebih segar, yang oleh karenanya menyajikan pada pemilik kebun bunga suatu kesegaran baru pada perawatan dan pemeliharaan.

Maka, hidup itu jauh lebih penting daripada makanan dan pakaian (serta rumah tempat tinggal dan berteduh), bukan?

Orang yang hidup sajalah yang memerlukan makanan dan pakaian (serta rumah tempat tinggal dan berteduh). Orang yang sudah mati manakah yang akan menuntut pakaian dan makanan? Jasadnya dikuburkan, dibungkus dengan kafan atau pakaian semewah apapun, ia tidak menyadarinya. Pada jasadnya ditempatkanlah makanan dengan aroma yang membangkitkan selera makan seperti apa pun, tetap tak dapat membangunkan daging itu yang segera akan membusuk. Daging busuk manakah yang berprakarsa dan berkarya?

Kisah tokoh-tokoh di dalam Alkitab (PL, PB) di sana lama hidup dengan karsa dan karya selalu menginspirasi. Sebutlah Nuh yang atas perintah Tuhan, ia membangun kapal besar (bahtera) di tengah daratan. Sesuatu yang mustahil,bukan. Seratus tahun membangun kapal besar itu menjadi sangat bermakna pada dirinya dan keluarganya. Ia telah  menjadi saluran penyelamatan umat manusia. Dia dan keluarganya merupakan satu-satunya keluarga yang mendapatkan kesempatan menikmati kehidupan pada masa peradaban baru. Mereka memulainya dengan mengucap syukur pada Tuhan. Alkitab tidak menjelaskan kepada kita tentang penyesalan Nuh akibat hujan deras, lautan yang menenggelamkan permukaan bumi dan segala isinya. Nuh pun tidak hendak berkisah pada kita bagaimana orang-orang di sekitar kehidupannya pada saat hujan lebat mulai turun tanpa henti-hentinya dan air bah mulai naik. Satu hal yang pasti, air bah telah merebut secara total keseluruhan kehidupan dimana daging-daging lemah dapat secara mudah dilenyapkan. Kualitas hidup yang rendah mudah dilenyapkan.

Bagaimana dengan orang-orang yang mati ketika masih berumur teramat muda, bahkan bayi sekalipun?

Ingatlah metafor perbandingan manusia dengan bunga dan rerumputan. Kita patut ingat bahwa tubuh manusia itu terdiri dari daging dan rangka yang diikat dengan sel dan otot. dihidupkan dengan darah (cairan) dan Roh (nafas). Ia bergerak, menunjukkan ada padanya hidup atau kehidupan. Ia kaku, maka sesungguhnya ia hanyalah bangkai, jasad, jenazah. Bila disejajarkan dengan binatang, bukankah bangkai akan mudah dibuang? Ia tidak berguna. Ia tidak lagi berfaedah pada kehidupan, kecuali dikuburkan, dibenamkan agar tidak terlihat. Bila daging, tulang, sel, otot tercemar (sakit) bukankah Roh Tuhan (nafas Tuhan) akan keluar? Roh Tuhan (nafas) akan kembali kepada Tuhan. Daging dan tulang segera akan membusuk. Bunga sekalipun sedang mekar, bila angin memainkannya secara kasar, akan segera rontok bahkan patah batangnya.

Penutup

Masa hidup tiap individu manusia akan bermakna bila isiannya dinilai positif oleh kaum dan komunitasnya. Maka, tidak mengherankan bila seseorang meninggal dunia (gugur bagai bunga), ia akan ditangisi dan diratapi. Jasa-jasanya diperhitungkan dalam ratapan orang-orang hidup. Kenangan-kenangan berkesan ditampilkan di etalase cerita.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani, Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. … .
Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mreeka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. (Kisah Para Rasul 9:36-37; 39)

 

Mari cermati bagian yang sengaja saya tebalkan. Ada tangisan sambil “menunjukkan hasil karya” dari dia yang meninggal. Hanya orang hidup yang berkarya. Jadi, ketika seseorang sudah meninggal, ia tidak dapat lagi berkarya. Daging dan tulangnya akan dikuburkan, ditanam. Daging dan tulang tak dapat lagi berprakarsa dan berkarya. Roh Tuhan di dalam tubuhnya (daging, dan tulang) telah kembali kepada yang memberikannya secara cuma-cuma alias gratis.

Jika demikian, maka manusia yang hidup dengan mendapatkan Roh Tuhan yang mengambil tempat di dalam tubuhnya, janganlah sia-siakan. Hiduplah secara berkualitas sehingga Roh Tuhan tidak keluar meninggalkan tubuh itu, sebab bila Ia pergi, sekalipun Anda masih terbilang muda, apakah kita akan melakukan demonstrasi pada sang Khalik?

Tugas kita mensyukuri kasih Tuhan pada kita senantiasa. Berprakarsa dan berkarya secara berkualitas sambil memelihara tubuh (daging dan tulang, sel dan otot) agar tetap sehat dan segar.

 

Koro’oto, 19 Januari 2021
Heronimus Bani

 

 

4 thoughts on “Bukankah Hidup itu Lebih Penting?”

  1. Ternyata melewati duka dapat membuat orang menjadi lebih bijak dalam menikmati hidupnya.

Komentar ditutup.