Suasana Mencekam pada Minggu Kematian dan Kebangkitan Yesus (1)

Pengantar

Tahun-tahun yang terlewati, masa raya sengsara Yesus, kematian-Nya, penguburan-Nya diperingati secara berbeda oleh keluarga besar Gereja Masehi Injili di Timor. Paskah dirayakan dengan pawai akbar yang kiranya hampir mencapai suatu titik budaya keagamaan di dalam masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya, bahkan mungkin kelak akan digadang sebagai ikon wisata religi yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Ini suatu perkembangan baru dalam memberi makna dan nilai pada praktik keagamaan kaum Nasrani di kota Kupang dari berbagai denominasi yang dimotori Pemuda GMIT.

Ketika pandemi covid-19 mendera, siapa yang melakukan pawai itu? Ada segelincir orang masih sempat melakukan napak tilas kesengsaraan Yesus dengan lakon drama di arena terbuka. Contohnya di Kapan, Timor Tengah Selatan. Lalu semua itu mungkin hanya akan menjadi kenangan dan cerita kebanggaan belaka pada mereka yang melakoninya. Entah makna dan nilai  yang dilakonkan itu meresap dalam darah, jiwa dan roh. Hanya mereka yang mengetahuinya sehingga mereka dapat memberikan kesaksian-kesaksian yang membangun keimanan. Hal yang sama terjadi pada para pemuda dari jemaat-jemaat GMIT Kota Kupang dan gereja denominasi yang turut meramaikan pawai Paskah pada tahun-tahun sebelum pandemi covid-19. Biaya besar dikeluarkan oleh mereka yang mengikuti kegiatan ini. Hasilnya kebanggaan pada solidaritas dan toleransi umat beragama di Kota Kupang, sehingga Kota Kupang dikenal sebagai Kota Toleransi umat beragama yang merembesi seluruh Nusa Tenggara Timur.

Lalu, ketika badai siklon tropis Seroja menyerang, saat itu ada waktu persiapan menuju Jumat Agung hingga kebangkitan Yesus. Siapa menyangka bahwa akan terjadi peristiwa yang sungguh mencekam seperti itu. Saya sempat menulis satu artikel pendek berjudul, Duga Kira-kira Bakal yang isinya tentang ramalan dan prakiraan. Salah satunya tentang prakiraan cuaca yang seringkali diabaikan orang. Maka, ketika terjadi cuaca sebagaimana sudah diprakirakan dan telah dipublikasi, orang lantas mengatakan, cuaca buruk dan tidak bersahabat. Saat itu, nuansa cemas hingga mencekam melanda karena tidak menyiapkan diri sebelumnya walau telah ada yang memberitahukan. Pemberitahuan itu dapat dipertanggungjawabkan karena ada sistem saintifik yang dimanfaatkan.

Bagaimana dengan situasi ketika Yesus mati (wafat) di salib dan nuansa suasana ketika jasad-Nya dikuburkan? Tidakkah hal-hal itu mencemaskan, menggemaskan dan mencekam?

Budaya Kekerasan dalam Pemerintahan Romawi?

“Pada abad pertama, Palestina dipenuhi dengan kekerasan. Ada kekerasan
sistematik,pemerintah kekaisaran Romawi, kekerasan teror Herodes Agung, bahkan terhadap kerabat dekatnya sendiri, kekerasan kaum Zelot yang mengangkat senjata untuk mengusir keluar bangsa Romawi, kekerasan bangsa Romawi yang menyalibkan orang-orang yang menentang atau mengancam kekuasaan Romawi. Palestina adalah daerah pendudukan dengan serangkaian raja dan gubernur yang korup dan jahat, yang memerintah dengan bantuan tentara asing dan berada di bawah pemerintahan seorang kaisar asing.”

Demikian catatan yang dibuat oleh Leo de Lefebure sebagaimana dikutip oleh Ibelala Gea dalam Jurnal Teologi Cultivation (Vol.3 No.1; Juli 2019). Ibelala Gea menjelaskan secara gamblang tentang kekerasan pada zaman kekaisaran Romawi dan wilayah keyahudian. Di sana kekerasan dalam wujud verbal dan fisik dipakai oleh penguasa untuk menghantui masyarakat. Dunia keagamaan Yahudi pun memanfaatkan hal yang sama dimana para pemuka agamanya tampil dalam balutan pakaian jabatan yang merepresentasi keulamaan mereka. Mereka memanfaatkan ayat-ayat kitab suci untuk mencerca umat sambil menjilat kepada penguasa yang lalim. Itulah sebabnya Yesus pun mengecam mereka secara keras.

Kecaman Yesus yang keras itu dicatat 8 kali oleh Matius dalam pasal 23:1-39; dan 6 kali oleh Lukas dalam Lukas 11:37-54.

Pernyataan sebagai kecaman keras ini sungguh suatu keberanian yang tidak terukur. Siapakah Yesus sehingga Ia berani mengecam para penguasa kesalehan dan keimanan, penjaga moral umat dan masyarakat. Mereka dihormati bahkan ditakuti. Kecaman-kecaman ini sungguh-sungguh sangat membekas pada mereka yang disasar. Sementara para pendengar di kalangan khalayak, hal itu menjadi kabar gembira oleh karena mereka menemukan seseorang yang peduli pada kepahitan hidup yang sedang terjadi.

Siapakah yang akan dengan segera berdiri paling depan menjadi pionir yang mensponsori penangkapan Yesus yang telah diterima sebagai Rabi (Guru)? Ia diikuti oleh belasan ribu orang setiap harinya. Massa yang mengikuti-Nya menjadi bayang-bayang kecemasan hingga ketakutan pada para penguasa dan penjaga moral, iman dan saleh.

Berkolusi dengan orang dalam. Cara yang paling jitu agar motif melenyapkan Yesus dan ajaran-Nya dapat terjadi. Jika Yesus lenyap, maka sekaligus ajaran-Nya akan sirna karena tidak mungkin lagi diteruskan oleh para pengikut-Nya yang rerata bukan kaum terpelajar. Mereka yang tidak terpelajar akan lari kocar-kacir, bersembunyi untuk menyelamatkan diri bila panutan mereka dilenyapkan.

Kolusi dimainkan ketika celah itu didapati. Koin perak yang menyilaukan dan membelalakkan mata telah dapat menutup mata hati seorang yang sangat paham organisasi.

Dua kali dalam catatan Yohanis bahwa Yudas Iskariot seorang bendahara yang sering mencuri uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh.12:6). Yudas memegang kas (Yoh.13:29).

Dua catatan ini menjadi pengetahuan kita bersama bahwa roh dari kelimpahan harta (mormon) yang mewujud dalam uang (duit) telah merasuki Yudas Iskariot. Ia menemui imam-imam kepala. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan nilai jual pada Sang Rabi. Nilai jual yang diterimanya sebesar 30 keping perak. (Mat.26:15; Mrk 14:10-11; Luk.22:5).

Berkolusi dengan para penjaga moral, iman dan kesalehan mengantarkan pada permufakatan jahat. Motif awal mereka telah mendapatkan pintu masuk melalui orang dalam dan orang dekat. Sebagai orang dalam dan dekat, tidak butuh protokol yang ketat bila ingin bertemu. Yudas Iskariot menjadi jalan dan pintu menuju area pelaksanaan permufakatan jahat itu. Jadilah kekerasan dimulai dari Getsemani. Kekerasan verbal dan fisik dimainkan di sana. Tensinya makin naik ketika berada di rumah Kayafas, makin naik di depan Pilatus yang kemudian dilanjutkan oleh Herodes dan berakhir di hadapan Pilatus yang dihasut massa yang berdemonstrasi. Kebencian diindokrinkan kepada massa sehingga mereka segera lupa pada ajaran Sang Rabi. Mereka menyerukan penghukuman dengan metode paling sadis pada zaman itu. Penyaliban.

Penyaliban bukan suatu metode penghukuman yang baru. Penyaliban sudah lazim bagi masyarakat yang hidup dalam area kekerasan. Kaum terpinggirkan sangat takut pada metode penghukuman itu, tetapi kalangan tertentu sangat menyukainya, bahkan menghendaki hal itu terjadi agar menjadi tontontan yang menarik. Pada kaum terpinggirkan, penyaliban mengantarkan pada trauma bila sebelumnya mereka pernah melihatnya atau menyaksikannya.

Kita masih ingat catatan Matius tentang tradisi membebaskan seseorang setiap tahun pada pelaksanaan hari raya keagamaan Yahudi (Mat.27:15). Tradisi itu diingat oleh Pilatus sehingga dia bermaksud membebaskan Yesus setelah ia memerintahkan untuk dicambuk (disesah). Tetapi, niat baik Pilatus ditolak. Imam-imam kepala dan para tua Yahudi terus menghasut khalayak untuk menghukum Yesus dan membebaskan Barabas.

Dalam semua babak yang dilewati Yesus, Ia menjalaninya sendirian. Para murid-Nya bersembunyi, termasuk Simon Petrus yang terkenal “garang”. Mereka dicekam rasa takut yang mendalam sehingga tidak satu pun yang mendekat sekadar memperlihatkan diri pada Yesus. Keberanian yang kiranya dilewati dengan kegentaran dilakukan oleh Maria dan Yohanis ketika Yesus telah berada di palang salib (Yoh.19:26-27).

Kekerasan telah mengantar Yesus sampai menemui ajal-Nya secara sangat tidak terhormat. Kekerasan telah “menenggelamkan” semangat para murid. Mereka mengikuti seluruh alur kekerasan itu dengan “berdiri dari jauh” di antara kerumunan massa. Mereka bagai menggunakan massa sebagai tameng agar kedok kemuridan mereka tidak diketahui oleh kaki-tangan penguasa. Mereka berada dalam nuansa hati yang tercekam takut dan gentar, maka solusinya adalah diam. Maka, tidak heran tak ada catatan dari para penulis Injil yang menulis pernyataan para murid ketika Yesus berada di seluruh alur kesengsaraan itu hingga berada di palang salib. Kekerasan telah membudaya dalam tubuh pemerintahan dan merembesi kaum penjaga moral, iman dan kesalehan.

 

Koro’oto, 25 April 2021

Heronimus Bani