Suasana Mencekam pada Minggu Kematian dan Kebangkitan Yesus (2)

 Nuansa Mencekam yang berbeda di April 2021

Tujuh Minggu berturut-turut kaum Nasrani berefleksi pada masa kesengsaraan Yesus. Majelis Sinode GMIT menghimbau anggotanya untuk berpuasa 7 kali. Puasa itu diharapkan bersamaan pada 7 kali hari Jumat. Tidak semua anggota jemaat baik secara individu, komunitas maupun institusi gereja (jemaat lokal) melakukannya. Bila ada yang melakukannya, tidak pula secara persis seperti yang dihimbaukan oleh MS GMIT. MS GMIT menghimbau (dan menghendaki) sikap dan tindakan bersama dalam waktu yang sama, yaitu hari setiap Jumat mulai pukul 07.00 – 19.00 WITa yang ditandai bunyi lonceng gereja. Fakta lapangan tidaklah demikian, walau ada pula yang benar-benar melakukannya.

Tujuan puasa bersama itu sebagai pendekatan empati dan kepedulian pada mereka yang terpapar virus korona, sekaligus berharap kiranya Tuhan mendengarkan doa umat-Nya agar virus ini segera dapat dipatahkan dan ditiadakan.

Dalam pada itu, hujan terus mengguyur permukaan bumi. Para pesawah merasa bernasib baik pada musim tanam ini karena tersedia air dalam jumlah yang cukup. Para peladang sebaliknya mulai cemas karena hasil ladang belum dapat dipanen. Para peternak harus siap-siap menanggung resiko tewasnya ternak-ternak karena kedinginan, apalagi virus yang menyerang ternak babi masih menggerayang.

Situasi antara pandemi covid-19 dan hujan yang terus-menerus mengantarkan penduduk di daratan Timor dan pulau-pulau sekitarnya mulai cemas. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan suatu berita resmi bahwa akan terjadi hujan yang disertai angin dan berpotensi badai besar. Hal itu akhirnya terbukti dimulai sejak 3 April 2021.

Satu catatan segera dibuat oleh id.wikipedia.org, bahwa badai Seroja terbentuk di selatan Nusa Tenggara Timur. Hujan dan angin menyebabkan banjir bandang, gelombang laut yang mencapai 4 – 6 meter terjadi di berbagai tempat di Indonesia, khususnya wilayah bagian Selatan yakni di Nusa Tenggara Timur.

Suasana makin mencemaskan ketika umat Nasrani (Katolik dan Protestan) akan merayakan Jumat Agung (2 April 2021), dan menyongsong Paskah (4-5 April 2021). Pada hari-hari ini hujan disertai angin makin tak dapat diprediksi oleh kaum yang menyaksikan dan merasakannya. Sebahagian umat Nasrani batal merayakan Paskah (4-5 April 2021) itu. Terdapat pula yang menunda perjamuan kudus dan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk perayaan hari keagamaan ini. Kecemasan dan ketakutan mencekam dan mencengkram. Angin makin kencang, berubah menjadi badai. Pepohonan mulai menari-nari, aliran sungai mulai meluap dan memuntahkan isinya keluar jalurnya, penyangga ladang mulai rontok. Ternak-ternak mati kedinginan, longsoran membawa material yang isinya ternak-ternak yang dikubur hidup-hidup. Banjir membawa korban ternak dan manusia. Sawah-sawah tergenang. Ladang-ladang puso. Rumah-rumah penduduk dan berbagai fasilitas umum hancur. Gedung-gedung gereja dibabat habis oleh badai. Siapakah yang tidak dicengkeram ketakutan?

Badai itu telah berlalu. Ia menyisakan luka dan duka yang menggores hingga kedalaman hati. Hati dan benak akan menyimpannya sebagai catatan sejarah kelam yang tiada akan terlupakan. Pernyataan-pernyataan muncul bahwa belum pernah terjadi badai seperti ini, bahkan keluar dari bibir para orang tua yang telah berumur di atas 60-an tahun.

Apakah cengkeraman ketakutan itu melebihi saat-saat Yesus berada di via dolorosa hingga Golgota?

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon dan Ketua PGI, Pdt. Dr. Gomer Gultom telah bersuara untuk menenangkah hati umat Kristen di Nusa Tenggara Timur. Suara Gembala. Suara itu diperdengarkan dari lokasi reruntuhan salah satu bangunan gedung gereja di Klasis Sabu Barat. Suara dari 2 Gembala kawanan domba Allah itu telah menginspirasi dan memotivasi berbagai kalangan untuk bergerak secara cepat. Tanggap darurat bencana diperankan secara luar biasa oleh GMIT dan berbagai kalangan termasuk pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota di seluruh Nusa Tenggara Timur. Bahu-membahu, bergandengan memeluk umat Tuhan yang terdampak bencana badai siklon tropis Seroja ini.

Suara Gembala itu telah mengaktifkan jemaat-jemaat GMIT sehingga dalam waktu relatif singkat telah terkumpul dana bantuan mencapai di atas angka satu milyar rupiah dan pemberian material yang kiranya dapat meringankan beban penderitaan walau mungkin tidak sampai tuntas. Kecemasan akan hari esok pasti merayapi setiap orang yang menjadi korban bencana ini. Maka, suara para gembala dan pemimpin pada berbagai ranah patut diperdengarkan dan didengarkan.

Dalam suasana ini, bukankah Yesus yang bangkit dan menang atas maut itu dapat membanitan dan memenangkan kita dari kepahitan ini?

Alkitab memiliki banyak catatan yang dapat menghidupkan kita yang berada dalam kecemasan, dan lagi sedang berada dalam cengkeraman kekuatiran dan ketakutan menghadapi hari esok.

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepda Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Maz.42:6)

Mazmur ini dinyanyikan oleh Korah yang menggambarkan dirinya sebagai seekor rusa yang merindukan sungai yang berair. Jiwanya merindukan Allah. Jiwa yang haus kepada Allah yang hidup (ay.2-3).

Jika kita berlaku seperti Korah, kita akan segera keluar dari cengkeraman kekuatiran, kegelisahan, dan ketakutan akan hari esok setelah badai siklon tropis Seroja menerjang. Kita pun makin dikuatkan oleh Yesus yang telah menang atas maut. Ia menepis dan membuang ketakutan para murid-Nya, ketika Ia menampakkan diri-Nya kepada mereka. Jiwa mereka yang “hilang” kini telah ada kembali. Darah dalam diri mereka yang sebelumnya telah dingin rada beku, kini mulai menghangatkan tubuh dan menjalari sel-sel. Tubuh mendapatkan kembali orisinalitasnya dalam riak gerak langkah baru.

Sebagaimana kata Yesus kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh.20:29). Kalimat yang sama kiranya ditujukan kepada kita yang tidak menyaksikan penderitaan Yesus secara nyata. Kita pun tidak menyaksikan kebangkitan Yesus yang memenangkan maut dan menjadi Tuhan atasnya. Jika maut pun telah dimenangkan-Nya, tidakkah Ia akan membawa kita kepada kegemilangan sesudah badai yang membencanakan ini?

Penutup

Kita masih menyaksikan kekerasan atas nama agama. Kekerasan verbal dan non verbal terus terjadi. Pasal penistaan agama hendak didakwakan kepada mereka yang menyebabkan ajaran agama tertentu ternoda, terhinakan dan ternistakan. Dampak ajaran dengan ujaran yang menista ajaran agama lain terjadi kekerasan non verbal. Dampak sosial terus berkembang dan berlanjut yang membenihkan iri dan kebencian mendalam. Kesemuanya itu bagai bom waktu yang menunggu saat untuk diledakkan. Pada saat itu akan terjadi kekacauan besar dan kekerasan makin menjadi-jadi.

Sang Khalik alam semesta terus mengingatkan kita dengan fenomena-fenomena alam, sebagaimana yang terjadi pada 3 – 6 April 2021. Kita mesti segera menyadari akan relasi intern penganut agama dan ekstern dengan umat beragama lainnya. Kerukunan dan toleransi, ditempatkan pada porsi yang tepat dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Keyakinan dan keimanan; ajaran dan dogma kebenaran patut pula berada pada posisinya. Ideologi negara berdiri tegak untuk menjadi tiang pandang seluruh warga negara. Di sana persatuan dan kesatuan dibina untuk dilestarikan dalam kebhinekaan kita.

Yesus Kristus Tuhan, Tuhan yang bangkit dan menang untuk mengantar kebhinekaan yang memuliakan dan alam semesta yang memberi manfaat.

 

Koro’oto, 25 April 2021

Heronimus Bani