Cemaskah pada Suasana Ibadah Kita? (1)

Pengantar

Pada tanggal 26 April 2020, saya menulis satu catatan yang kiranya dianggap cukup panjang. Catatan itu saya tulis di beranda akun feisbuk Tateut Pah Meto Roni. Catatan itu berisi nuansa sekitar pendekatan beribadah umat ketika pandemi menyerang, sehingga harus mengikuti ketentuan yang dikeluarkan pemerintah dalam hal beribadah. Mengikuti cara itu maka diharapkan kita akan memutus rantai penyebaran virus korona yang pada klimaksnya virus itu sendiri akan lenyap, jika Tuhan menghendakinya.  Saya kutip kembali catatan saya di bawah ini,

Selamat pagi para sahabat. Selamat menunaikan ibadah Minggu dengan varian cara yang dapat dan memungkinkan. Kami di desa masih di rumah saja. Belum beranjak ke luar rumah pada hari Minggu pagi. Sampai saat ini sudah lima minggu.Sungguh terasa berbeda.Rasanya seperti Kristen pelarian, atau penganut ajaran baru yang beribadah di goa dan katekombe. Menjauh. Jika pada masa lampau penganut/kelompok pengikut Kristus Yesus bersembunyi dalam persekutuan oleh karena mereka dihantui kekuasaan dunia yang hendak melenyapkan mereka, kini, justru kita bersembunyi dari kuasa yang tidak kasat mata. Inikah roh di atas kita yang mengancam kehidupan jasmani sekaligus menggoda keimanan dan menghalangi persekutuan?
Para sahabat yang beribadah secara online. Apakah para sahabat sedang benar-benar menikmati ibadah itu? Tidakkah para sahabat menikmati itu sambil menyeruput kopi di depan layar monitor laptop atau gawai apapun itu? Sementara pemimpin ibadah sedang mengenakan jubah kemuliaan dan kebesaran yang disandangkan padanya ketika ia dilantik. Biduan/prokantor melantunkan madah pujian dengan nada indah.
Beribadah secara ONLINE, beribadah dalam jaringan. Konsep dan gaya pemisahan yang kasat mata. Seluruh umat manusia dalam agama manapun, ritual keagamaan rutinnya mesti dalam persekutuan yang nyata,tidak terpisah jarak walau itu dilakukan secara ONLINE. Betapa Kristus menghendaki hal ini? Mungkin, YA! Sampai kapan? Hanya Kristus Tuhan Junjungan yang akan memberikan batas akhir dari situasi ini atas kerja bersama-Nya. Ia menghendaki kita taat pada aturan yang jelas tegas. Taat dan patuh pada suara para gembala yang bergerak dari rumah saja.
Tidak baikkah seorang gembala mendekat pada dombanya yang sedang keluh pada hari-hari belakangan ini? Bukankah seekor domba yang keluh pasti dibelai, dielus dan dinutrisi secara lebih bergizi? Mengapa tidak mendatangi mereka dari rumah ke rumah? Mereka tidak sedang ke mana-mana. Mereka di rumah saja. Datangi! Beri mereka pakan rumput segar dari yang disediakan Tuhan dalam Kitab Suci. Segarkan jiwa dan raga mereka mereka yang berdahaga dan sedang layu dari Air Hidup yang jernih dan bening itu. Ajak mereka berbicara walau mungkin mereka hanya melongo saja tanpa senyum.
Gembala yang berkelas pasti lebih patuh pada aturan yang tegas jelas itu, dibanding
domba yang lemah.
Para gembala berkelas pasti tidak duduk dalam ruang kelas berteduh sambil menyeruput kopi hangat diselingi penganan kecil mendiskusikan cara pendekatan tanpa implementasi.
Kiranya covid-19 makin menjauh agar menurunkan tensi kecemasan. Bila mungkin ia hilang dibawa angin atau ditelan bumi bersama mereka yang telah dikuburkan kiranya ia tak kembali kecuali kenangan padanya dan mereka yang telah dikebumikan itu. Saat itu ada laknat keluar dari bibir tapi bersyukur atas suasana aman.
Bila hari ini kita dapat bernafas dalam kesegaran biarlah tadahkan tangan pada Tuhan seraya menyapa dengan hiasan senyuman indah pada para kekasih di terdekatmu.
Selamat pagi para sahabat. Kiranya Kristus Tuhan yang telah menang itu, mengantar kita sampai podium kemenangan itu.
Bila pagi ini burung berkicau riang
Ia berpanggung di dahan dan ranting
Ia mendendangkan nada puja bermadah girang
Ia menyegarkan diri bagai tanpa kesadaran
Ia menopang hidupnya sendiri bagai tanpa pemangku
Tidakkah insan sempurna dipelihara-Nya?
Pasti…!
Sayangnya, bila yang sempurna tak paripurna hidup!?
Bagaimana pula ia berkicau riang bagai si burung itu?
Berkeluh-kesah sajalah sang sempurna itu
Bila menghadap pada kemuliaan Khaliknya
Lupa ia amanat yang diterimakan sang Khalik
bahwa sang sempurna mesti menjadi pemelihara
bukan peloba yang rakus menelan isinya,
sambil berdendang rasa syukur pada Khaliknya!
??
??

Lalu, ketika vaksinasi digaungkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, sikap masyarakat (umat) seakan terbelah antara percaya dan ragu pada program itu. Mereka yang percaya, merindukan mendapatkan vaksin sehingga ada imun (pelindung/pertahanan) pada tubuh. Mereka yang ragu memberikan berbagai alasan termasuk kehalalan pada vaksin itu sendiri. Maka, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo tampil terdepan, menjadi orang pertama yang divaksin, bersama para Menteri dan seorang Influencer, Raffi Achmad. Hasilnya, keraguan mulai terkikis, sambil terus diingatkan bahwa sekalipun telah mendapatkan vaksin, orang harus tetap waspada. Kewaspadaan itu ditunjukkan dengan tetap patuh pada protokol kesehatan. Jangan lengah apalagi pongah.

Lalu, bagaimana dengan ibadah? Di beberapa tempat masih harus beribadah secara daring. Tempat-tempat yang masih memberlakukan Pembatasan Sosial hingga satuan mikro. Di sana ibadah daring masih berlangsung. Sementara di daerah-daerah dengan zona hijau boleh melakukan ibadah dengan tetap memperketat protokol kesehatan.

Sayang sekali. Ketika badai siklon tropis Seroja menerjang Nusa Tenggara Timur, apakah protokol kesehatan mendapatkan perhatian serius dari masyarakat (umat)? Entahlah? mediaindonesia.com memberitakan bahwa mayoritas umat Kristen di Kota Kupang melaksanakan ibadah pada Jumat Agung dan Minggu Paskah secara daring (live streaming). Puji Tuhan. Bagaimana dengan umat Kristen di pedesaan? Di sana, khususnya di tempat-tempat yang terdampak badai siklon tropis Seroja, bagaimana memikirkan ibadah, rumah/gedung gereja dibongkar badai, dirobohkan badai. Lalu, siapa yang sedang berpikir tentang prokes?

 

bersambung