Cemaskah pada Suasana Ibadah Kita (2)

Ibadahmu Covid dan Serojanya

 

Seorang jurnalis bbc.com menulis satu artikel pada Juni 2020 denhan judul, Covid-19: Tempat Ibadah dibuka, “tentang kekuatiran terkena covid-19, ya kita berdoa saja”. Isi ringkas artikel ini tentang izin yang dikeluarkan oleh Menteri Agama (saat itu, Fachrul Razi). Menteri Agama Fachrul Razi mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. 15 tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 di masa pandemi. Umat beragama tentu ada “sukacita” di hati karena mendapatkan peluang untuk kembali ke dalam ruang-ruang besar tempat berhimpun untuk menyembah Tuhan. Suatu sukacita, walau harus beribadah dengan pendekatan yang mengalami pergeseran yakni, mencuci tangan di air mengalir menggunakan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak duduk antarpeserta ibadah hingga “dilarang” bersalaman secara langsung. Ini suatu pengalaman baru, bukan? Ketika bersua di rumah ibadah (agama manapun), di sana ada yang menjaga untuk menertibkan dan mengingatkan untuk melakukan 3 M itu. Suasana ibadah bergeser di sini. Ada petugas yang mengontrol ketertiban umat.

Perubahan pendekatan dalam beribadah yakni dengan menerapkan protokol kesehatan menjadi suatu keharusan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah penularan dan penyebaran virus, bahkan sekalipun berada di tempat-tempat yang jauh dari pusat-pusat keramaian. Wilayah pedesaan yang jauh dari pusat-pusat keramaian, di sana masyarakat (umat) rasanya tidak bersentuhan dengan orang-orang yang berasal dari pusat-pusat keramaian itu. Akan tetapi, siapakah yang dapat secara ketat membendung dan mengkerangkeng mobilitas masyarakat (umat) dari satu tempat ke tempat lain?

Rumah ibadah pada penganut agama apapun semuanya harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ketika hari-hari raya keagamaan, petugas dari satuan tugas pencegahan dan penanganan penyebaran covid-19 disiagakan. Mereka akan mengizinkan atau mencegah anggota umat beragama yang akan masuk ke rumah/gedung ibadah atas alasan rasa nyaman, kesehatan dan keselamatan bersama. Mereka akan secara ketat memberikan arahan dan petunjuk untuk mencuci tangan pada air yang mengalir dengan menggunakan sabun, menggunakan cairan pembersih kuman (handsanitizer), mengenakan masker pelindung mulut dan hidung, menjaga jarak, hingga mengingatkan untuk tetap menjaga jarak sosial dengan tidak bersalaman. Cara bersalaman yang khas tiap wilayah diubah, diganti dengan cara bersalaman yang kiranya disebutkan sebagai salam korona. Masih ada persentuhan anggota tubuh juga, sehingga akhirnya tidak diperkenankan lagi untuk bersalamanan dengan cara-cara itu, kecuali hanya melipat dan menyatukan dua tapak tangan, menempatkannya di depan dada sembari menghunjukkannya kepada rekan atau sesama yang disasar salam itu.

Para pemimpin ibadah di dalam ruang ibadah harus bermasker. Mikrofon yang digunakan harus steril, jika perlu disemprotkan disinfektan sebelum menggunakannya, dan terus disemprot bila dipakai secara bergantian. Mikrofon itu sendiri mesti terbungkus. Berbagai tes disasarkan pada tubuh seperti cek suhu tubuh menjadi kewajiban. Mereka yang suhu badannya kurang dari 36 derajat atau lebih dari angka itu, biasanya belum diperkenankan masuk. Hal ini berlaku sama di banyak tempat yang dikunjungi masyarakat (dan umat). Wabah virus korona ini sungguh suatu hal yang memprihantikan sehingga kekuatiran melanda hingga insan ber-Tuhan pun bagai remuk. Lalu, Yesus mengingatkan kita dengan pernyataan yang dibuat-Nya.

“Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (Yoh.11:4)

Merujuk pernyataan Yesus ini, mula-mula kita harus melihat konteksnya. Yesus berbicara dengan siapa, dan kapan itu. Dikisahkan bahwa saat itu Lazarus, sahabat Yesus telah meninggal dunia. Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus. Ketika Ia mendengar (menerima) kabar itu, keluarlah pernyataan itu dari mulut-Nya. Selanjutnya Yesus pergi ke tempat dimana jenazah Lazarus dibaringkan (dikuburkan). Yesus pun membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Suatu mujizat terjadi. Orang mati bangkit. Yesus menyatakan kemuliaan Allah; dan penyakit yang menjadi penyebab kematian Lazarus hanyalah suatu jembatan dimana Anak Allah dimuliakan.

Kaum Nasrani meyakini bahwa pernyataan Yesus itu tidak berhenti di sana. Kuasa pernyataan Yesus tetap hidup melintasi segala generasi dan zaman. Berbagai jenis virus telah dan pernah menghantam penghuni planet ini. Semua virus itu telah “membunuh” jutaan manusia. Pada saat-saat seperti itu, para pakar dan periset kesehatan berinovasi menciptakan antivirusnya. Maka, kemudian penyakit yang ditimbulkan oleh virus-virus itu pun tidak lagi menjadi ancaman yang mematikan. Manusia kembali ke dalam kehidupannya yang normal sambil bersisian hidup dengan virus-virus yang sesewaktu menyerang tubuh yang telah beradaptasi.

Virus korona pun demikian. Antivirus (vaksin) telah ditemukan oleh banyak lembaga riset di berbagai negara. Pro-kontra atas penemuan suatu vaksin tidak kurang-kurang juga, baik dari aspek politik, ekonomi, sosial, kesehatan masyarakat hingga aspek religi. Berpolemik di tengah ancaman virus korona, tentu baik bila tetap pada koridor hendak menyelamatkan manusia di dalam suatu wilayah (negara). Jika berpolemik tanpa solusi, maka baiknya kita memberikan keluasan kepada Pemerintah untuk mewujudkan gagasan keselamatan (kesehatan) masyarakat prioritas tanpa mengabaikan hal-hal seperti: pembangunan ekonomi dalam segala aspeknya.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan semua denominasi gereja sebagai yang hidup di dalam negara ini pun turut berada dalam masa kedaruratan nasional pandemi covid-19. Selain pandemi covid-19, badai siklon tropis Seroja pun ikut menambah kecemasan hingga mencekam.

Ya, dunia keagamaan di Indonesia dimana umat merindukan selalu bersekutu di tempat-tempat ibadah, justru terhalang oleh pandemi covid-19. Demi keselamatan dan kesehatan bersama, memang demikian adanya untuk beribadah dengan cara berbeda.

Daulad Tambunan dalam https://binus.ac.id/ menulis ringkasan risetnya dengan judul, Fenomena Teologi Kristen pada masa Pandemi Covid-19. Satu uraian singkat yang dikemukakannya saya kutipkan di sini,

Memaksakan beribadah dengan alasan Tuhan akan melindungi peserta ibadah dari penularan virus corona sama saja menganggap wabah corona itu dongeng. Wabah virus corona yang telah ditetapkan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi. Karena itu memaksa diri untuk beribadah dalam rumah ibadah dalam bentuk perhimpunan yang dapat membahayakan peserta ibadah sama saja dengan menyangkali realitas wabah virus corona.

Orientasi beragama yang hanya untuk kepentingan individu atau kelompok akan berdampak buruk bagi agama itu sendiri. Politisasi agama yang menggunakan agama untuk kepentingan individu atau kelompok merupakan contoh orientasi beragama yang bukan untuk kemuliaan agama itu. Akibatnya, agamalah yang paling dirugikan dalam politisasi agama itu. Wajah garang agama kerap hadir dalam politisasi agama yang sejatinya bukan penampilan diri agama itu sendiri, tapi agama telah diperalat untuk kepentingan tertentu.

Orientasi beragama sejatinya tertuju untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk kemuliaan individu atau kelompok tertentu. Dalam Kristen orientasi beragama yang benar harus tertuju pada kerinduan untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.”Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Orientasi beragama yang memuliakan Tuhan itu terlihat pada praktik beragama yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Pada praktiknya, mengasihi sesama manusia harus lebih dulu dilakukan, dan melalui tindakan mengasihi sesama itu seseorang akan tahu apakah dia mengasihi Allah atau tidak. Agama itu untuk manusia, maka pengetahuan akan Tuhan sejatinya akan membawa seorang Kristen mengasihi sesamanya.

Mengasihi sesama itu sendiri adalah sebuah tindakan aktif bukan pasif atau dengan menunggu untuk dikasihi. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang  perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Sementara itu badai siklon tropis Seroja bagai berkompetisi dalam penghancuran. Covid-19 “melenyapkan” manusia dengan memasuki dan menggergaji organ tubuh dalam satuan waktu tertentu, sang badai Seroja menghantam dari luar diri segala makhluk. Hantaman badai Seroja terlihat dan sungguh sangat dirasakan. Pedih dan perih. Suara Gembala dari Ketua MS GMIT dan Ketua Umum PGI menyentuh hati setiap individu menembus lintas komunitas penganut agama demi kemanusiaan.

Kini, dua hal yang mencemaskan dan mencekam ini telah terjadi. Sang badai Seroja telah berlalu setelah menunjukkan kegarangan dan keperkasaannya, sementara Covid-19 masih menggerayang bahkan beranak-pinak pada varian baru. Suatu perkembangan yang harus terus diwaspadai sebagai umat manusia, insan ber-Tuhan dan yang berpikir secara rasional untuk menyelamatkan kaumnya.

 

 

Koro’oto, 07 Mei 2021