Ketika Seroja Berlalu Korona Merayapi Kaum Beriman

Badai siklon tropis Seroja yang menerjang Nusa Tenggara Timur pada Minggu pertama April 2021 telah memporakporandakan banyak hal. Ketika badai itu datang, kaum Kristen sedang merayakan Minggu terakhir kesengsaraan Yesus, Jumat Agung dan menanti Paskah (Kebangkitan/Kemenangan). Kebangkitan Yesus disambut badai siklon tropis Seroja yang menyebabkan rasa hati menjadi pilu di tengah sukacia kemenangan Kristus atas maut.

Sementara itu pandemi tidak pergi gegara badai menerjang. Ia justru merayap perlahan bagai prajurit yang mengendap-endap di medan pertempuran. Prajurit lawan lengah, maka terjadilah kejutan-kejutan yang mencekam hingga merenggut nyawa.

Nusa Tenggara Timur yang masih “berduka” akibat terjangan badai siklon tropis Seroja harus pula segera berbenah kembali pada kebiasaan pola hidup dengan pendekatan protokol kesehatan yang ketat; mencuci tangan menggunakan sabun pada air mengalir, memakai masker, menjaga jarak fisik dan sosial, dan lain-lain. Lalu harus bekerja, belajar dan beribadah di dan dari rumah. Pendekatan-pendekatan baru yang sudah bukan baru tetapi masih dalam penyesuaian-penyesuaian terus berlangsung. Masyarakat awam, praktisi di dunianya masing-masing, termasuk di dalamnya kaum beriman pada umumnya, dan khususnya kaum Kristen.

Di perkotaan gereja-gereja dibuka dengan ibadah yang sudah mulai lazim karena rerata telah memiliki BP2J atau UPP Multimedia. Mereka memanfaatkan resorsis yang tersedia untuk mencapai jemaat bahkan lebih luas lagi melintasi segala komunitas dan kaum. Sementara di pedesaan pendekatan manual masih dipertahankan. Bila harus melakukan ibadah di rumah, maka majelis jemaat harus bekerja keras untuk menyediakan liturgi dan renungan. Mereka harus mengantarkannya ke rumah-rumah anggota jemaat. Lalu, bagaimana dengan jemaat-jemaat yang tempat ibadahnya dibongkar badai?

Empat puluh hari (atau lebih) telah berlalu sejak datangnya badai itu. Pada saat itu Kristus bangkit dari kematian-Nya. Ia menang atas maut. Kubur tak dapat menahan Diri-Nya. Ia menjadi Tuan dan Tuhan atas segala yang ada di alam raya dan di sorga. Ia ada melintasi ruang dan waktu. Ia tidak dapat dikurung untuk menempati suatu kapling tertentu dan menjadi milik orang atau kelompok tertentu. Ia tidak ekslusif. Kenampakan-Nya pada beberapa tempat dan orang, hingga sekaligus pada ribuan orang menunjukkan kemahakuasaan-Nya.

Kini, kita akan merayakan kenaikan-Nya ke sorga. Ia naik, terangkat. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya sesuai janji-Nya.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yoh.14:2)

Nah, Yesus Kristus Sang Tuan dan Tuhan naik ke sorga. Dia pergi ke rumah darimana Ia datang. Ia kembali kepada Bapa-Nya. Ia rindu melihat sahabat-sahabat-Nya ada bersama-sama dengan-Nya di sana. Maka, Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi sahabat-sahabat-Nya. Ia tidak merujuk sahabat terbatas hanya pada mereka yang pernah Ia pilih dan tunjuk yaitu yang dua belas orang, atau 13 orang atau 70 (72) orang. Ia menunjuk setiap orang yang percaya kepada-Nya sebagaimana yang disampaikan dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus (Yoh.3).

Jika kita ingat masa antara berlalunya badai siklon tropis Seroja sampai kenaikan Yesus Kristus ke sorga, masa-masa ini suatu kepahitan dan pilu melanda “gereja”. Kaum beriman sedang menghias permukaan pelayanan (ibadah) mereka dengan rona solidaritas. Ini suatu penampakan yang menjadikan tali kasih makin erat pada mereka yang terdampak bencana. Ketika Yesus menampakkan diri pada murid-murid di pantai dimana mereka sedang kembali pada profesi semula, mereka mendengar dan melihat dengan jelas suara dan diri-Nya. Ketika mereka tiba di pantai, roti dan ikan sudah tersedia. Bukankah kecemasan telah dibayar Yesus dengan menunjukkan diri pada mereka dan menyediakan makanan (kebutuhan) sebagaimana yang mereka perlukan?

Kita makin cemas karena virus korona merayap sebentar ketika seroja menyerang. Seroja pergi korona bangun dari tidur sementaranya. Ia menyerang secara diam namun kini menunjukkan hasilnya. Taringnya merobek dan mencabik. Kecemasan berulang lagi. Rumah ibadah ditutup lagi. Apakah Kristus Yesus Sang Tuhan tak melihat semua ini?

Ia telah mengingatkan kita untuk tetap waspada. Jika kita membaca Lukas 21, bukankah Yesus telah mengingatkan tentang banyak hal yang terjadi di masa yang akan datang? Masa yang diawali kira-kira sejak Yesus mengatakannya sebagai nubuatan. Ia mengatakan hal itu sebagaimana fungsi-Nya sebagai seorang nabi. Nabi yang berkata tentang sesuatu yang akan terjadi pada ratusan atau ribuan tahun ke depan.

“Waspadalah supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan : Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.
Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semua itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berati kesudahannya akan datang segera.”
Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.” (Luk.21:8-11)

Kewaspadaan, kehati-hatian, mawas diri, bersiap-siap. Kira-kira demikian kata-kata kunci pada kita ketika kita beribadah dalam rasa syukur peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga.

 

 

3 comments