Berbaju Agama di tengah Homogenitas dan Heterogenitas

Berbaju Agama di tengah Homogenitas dan Heterogenitas

Lukas 18 : 9 – 14

Pengantar

 

Hari Minggu, (23/10/22), Kebaktian Utama di lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), jemaat-jemaat di perkotaan, pedesaan, daerah pantai dan pedalaman, semuanya mendengar suara lonceng gereja berdentang. Mereka memasuki salah satu hari minggu dimana dirayakan dengan tema utama, keluarga. Hari Minggu yang satu ini, sub tema yang terurai dari tema utama itu yakni: keluarga yang dibenarkan Allah. Tema yang menarik, oleh karena Tuhan sendiri yang membenarkan keluarga dan bukan sebaliknya keluarga berdiri di hadapan Tuhan untuk membenarkan diri.

Lalu, rasanya judul di atas kurang tepat atau bahkan tidak tepat dengan sub tema dalam Kebaktian Utama Minggu ini.

Ya, rasanya demikian, namun baiklah saya urai dan runut untuk sampai ke sana sehingga terjadi pertautan yang membelajarkan makna.

Urai Ringkas Teks Alkitab Lukas 18:9-14

Penulis Injil Lukas menempatkan satu cerita dalam pasal ini. Lukas mengetahui bahwa Rabi Yesus menggunakan metode bercerita dengan perumpamaan. Rabi Yesus mengisahkan bahwa ada 2 orang yang pergi berdoa. Ketika keduanya berada di rumah ibadah, yang seorang berdiri di depan, seorang lainya berdiri paling belakang. Dia yang berdiri di depan masuk dalam kategori orang terpandang, terhormat dari kalangan kaum beragama. Golongan mereka kudus yang ditunjukkan dengan tampilan dengan balutan pakaian yang khas. Sementara itu, seorang lainnya itu di tengah masyarakat mendapatkan perlakuan sebagai orang berdosa. Golongan orang yang demikian ini layak dikucilkan dan dijauhi.

Kedua orang ini mempunyai cara berdoa yang berbeda. Orang pertama, menyampaikan kepada Tuhan tentang kehidupannya yang jauh dari dosa. Ia melaksanakan segala hukum Tuhan. Ia menyampaikan pula kepada Tuhan, bahwa ia seorang yang berbeda dengan orang di belakangnya.

Sementara orang kedua, sikap dirinya, berdiri jauh, tidak berani mengangkat wajah, ia menunduk, dan hatinya remuk. Ia menyatakan di hadapan Tuhan, bahwa dirinya orang berdosa. Ia menyesali keberdosaannya.

Pembacaan dan uraian singkat ini terlihat ada dua hal yang kontradiktif. Satunya pongah dan arogan, baik tampilan, sikap maupun perkataannya. Satunya merendah, mengakui diri sebagai berdosa sehingga ia memohon ampunan.

Tampilan dalam Baju Agama di Tengah Homogenitas

Para pendeta di dalam lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor dipastikan akan mengenakan pakaian yang khas sebagai seorang pendeta. Toga (jubah) dengan dua warna: putih dan hitam dipakai secara bergantian pada situasi pelayanan.  Bila mereka memimpin ibadah tertentu cukuplah mengenakan sebentuk model kain berwarna putih yang disematkan di kerah baju (white color). Model ini hendak memberi perbedaan antara mereka dengan yang dipimpinnya. Ini bukan sesuatu yang salah, tetapi sesuatu yang menciribedakan mereka sebagai pemimpin agama baik dalam kelompok kecil hingga komunitas besar. Demikian juga para pemimpin agama lainnya yang menciribedakan pemimpin agama yang satu dengan yang lainnya. Semua tampilan dengan pakaian kebesaran dan kekhasan organisasi keagamaan ini hendak menggambarkan bahwa mereka masuk dalam golongan orang yang “berbeda” di dalam satu komunitas atau bahkan populasi yang homogen dan heterogen.

Para anggota dalam organisasi keagamaan akan dengan mudah mengetahui pemimpinnya itu dari tampilannya. Lalu, mereka yang menjadi anggota akan menaruh hormat dan takzim pada pemimpin agama oleh karena tampilannya yang menciribedakan dari mereka. Para anggota bukan saja memberi hormat dengan menyalami, tetapi sekaligus sesudahnya “menjauh” karena merasa bukan levelnya untuk bersama sang pemimpin. Hal yang (mungkin dapat) dilakukan oleh mereka yang bukan anggota dari organisasi keagamaan yang sama. Mereka pun menghormati dan takzim pada para pemimpin organisasi keagamaan yang tampil dengan pakaian kebesaran, kehormatan dan kekhasan itu.

Patut diakui tentang perasaan dimana orang “menjauhi” pemimpin agama yang tampil “bersih nan saleh dan khas” dalam pakaian kebesaran dan kehormatan mereka. Tampilannya saja yang demikian sudah membuat para anggotanya menjauh bagaimana dengan isi pernyataannya? Harapannya yakni, pernyataannya akan mendekatkan dan merekatkan mereka kepadanya, dan terlebih kepada perubahan-perubahan sifat, sikap, karakter, moral, etik dan lain-lain yang semuanya menunjukkan perwujudan dari apa yang keluar dari mulut pemimpin agama yang tampil dengan baju agama yang khas. Harapan bahwa para pengikut (pendengar) akan mendekat dan merekatkan diri padanya tentulah bukan sesuatu yang salah. Topik-topik pengajaran (khotbah) baik yang disampaikan lugas, tegas, lembut cenderung lemah, hingga lucu bak panggung lawakan, akan menjadi branding padanya. Maka, menyebut branding itu saja, orang akan mengenal dan merindukan kehadirannya.

Mari melihat orang pertama dalam cerita yang diucapkan Rabi Yesus, ditulis oleh Lukas. Orang itu termasuk dalam golongan kaum agamawan, Farisi. Menurut para ahli, Golongan Farisi yaitu kelompok yang menganggap diri mereka sebagai kaum beragama yang saleh. Mereka ini biasanya memisahkan diri dari orang biasa dan suka mencampuri urusan politik pemerintahan. Pada mulanya ketika kelompok ini terbentuk, mereka tidak mencampuri urusan politik pemerintahan. Mereka mengkhususkan diri pada mempelajari dan menyampaikan Hukum Taurat. Mungkin sikap ‘memisahkan diri’ ini pada akhirnya membuat mereka cenderung memandang rendah orang-orang yang bukan Farisi. Sikap menganggap diri ‘lebih suci daripada orang lain’ itu telah menyebabkan nama mereka menjadi bahan cemoohan. Keangkuhan dan kepongahan ditambah lagi dengan legalisme yang kaku dan lebih mengutamakan ketaatan kepada upacara keagamaan daripada kasih dan belas-kasihan, menyebabkan mereka terlibat dalam “konflik” dengan Rabi Yesus Kristus, bukanlah karena sikap mereka yang ortodoks, melainkan akibat sikap angkuh dan arogan yang tidak menunjukkan kasih.

Mereka akan menampilkan diri sebagai orang berpengetahuan, bicaranya lugas di depan banyak orang yang menunjukkan luasnya cakrawala pengetahuan mereka. Rujukan-rujukan yang disebutkan tidak sekadar asal rujukan, tetapi benar-benar meyakinkan pendengarnya. Mereka akan merujuk atau menyandarkan asumsi dan hipotesa mereka pada orang tersohor, terlebih pada kata-katanya, baik yang tertulis ataupun yang oral. Kita kiranya dapat menyebut mereka sebagai kaum elit dalam dunia ilmu keagamaan dengan segala komparasi agama. Suatu golongan elit yang ekslusif, tetapi mereka sendiri mau bertemu dengan masyarakat (umat) pada kelas bawah. Mengapa? Karena mereka membutuhkan pengakuan. Jika mereka “mengurung dan memasung” diri dalam ke-elitan dan ekslusivisme baju agama mereka, bagaimana mereka mendapatkan pengakuan?

Golongan Farisi yang merupakan bagian dari agama Yahudi dipastikan tidak keluar dari pertemuan-pertemuan yang khas Yahudi. Hanya kepada golongan Yahudi saja mereka bertemu. Jadi mereka menganut pendekatan homogenitas, yaitu mengajar dan mengharapkan pengakuan hanya dari golongan Yahudi semata. Lalu pada titik waktu tertentu mereka mencela orang-orang yang merupakan sesama mereka sendiri. Lihatlah cerita di atas dimana sang saleh nan alim, Farisi mendongak dan arogan di hadapan Tuhan dalam doanya, sambil “melaporkan” pembenaran dirinya pada Tuhan bahwa ia tidak sama dengan orang di belakangnya.

Mungkinkah para pemimpin agama dewasa ini berlaku seperti itu?

 

Tampilan Baju Agama di Tengah Heterogenitas

Heterogen ~ kemajemukan. Dunia media sosial zaman ini tidak mengenal batas geografis, status sosial, ekonomi dan lain-lain. Semua pengguna media sosial terasa sama dan sejajar kedudukannya pada aplikasi-aplikasi yang digunakan. Bila pengguna FB yakni pemuka agama, di sana bukan orang sesama agama saja yang menjadi pengikut (follower) tetapi siapapun boleh menjadi pengikutnya.

Saya tidak akan membuat daftar pemuka agama dalam tampilan baju agama dengan pengajaran yang lintas agama, lintas lapisan masyarakat, lintas daerah bahkan negara, alias heterogen. Pengajarannya menggunakan pendekatan menjaga keseimbangan agar para pendengar dan penontonnya tidak terpecah, tidak saling menyerang, atau bahkan tidak menyerang kembali kepadanya. Golongan yang demikian tidak frontal, tetapi tanganny terulur untuk merangkul semua pihak dan golongan agar tercipta ke-ademan, kenyamanan, ketertiban dan keamanan di suatu daerah yang beragam etnik, keanutan pada agama dan lain-lain.

Mengenakan baju agama pada masyarakat yang heterogen, kiranya hendaklah demikian. Tampilan dan pernyataan-pernyataannya baik di media arus utama maupun media sosial akan dirujuk untuk mengokohkan pandangan sendiri ketika berada dalam kelompok dengan jumlah terbatas.

Kaum yang demikian terasa jumlahnya terbatas di tengah-tengah masyarakat suku dan penganut agama, status sosial dan ekonomi yang  berbeda-beda. Jumlah yang sedikit tetapi dengan pengikut yang banyak menjadikan lingkungan kehidupan terasa nyaman dan damai. Konflik kepentingan baik secara senyap maupun yang frontal kurang terlihat, atau jika hal itu terlihat sehingga mengganggu rasa aman dan ketertiban, para pemimpinnya segera duduk bersama untuk menyelesaikannya.

Para pemimpin yang demikian patut diacungi jempol oleh karena mereka tidak akan mencela orang lain, tetapi juga tidak memuji sesamanya sendiri. Pendekatan pengajarannya sungguh disukai publik.

Kini Anda boleh menjawab pertanyaan saya, dimana kedudukan Rabi Yesus dalam pengajaran-Nya: pendekatan manakah yang Dia gunakan?

Penutup

Nah, kini kita bertanya, bagaimana dengan diri kita sendiri sebagai penganut agama dan pemimpin kelompok teramat kecil di dalam rumah? Apakah seorang kepala keluarga akan mencela isterinya atau anaknya dengan berdoa seperti sang saleh dan alim, orang Farisi itu? Mungkinkah isteri akan berdoa dan menyampaikan kepada Tuhan, bahwa ia lebih baik daripada suaminya. Mungkinkah anak-anak akan berdoa secara diam-diam di kamar tidurnya, dan dalam doanya menyampaikan, bahwa orang tua mereka menjadi pendosa-pendosa sehingga rumah tangga mereka menjadi tidak nyaman?

Mari berefleksi. Semua orang mendapatkan ruang dan luang untuk berdoa di hadapan Tuhan. Lalu satu doa yang diucapkan di hadapan Tuhan pastilah didengarkan, tetapi belum tentu diterima. Ingatlah kata Rabi Yesus dalam Luk.18:14b,  barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

Penulis: Pnt Heronimus Bani
Umi Nii Baki-Koro’oto, 23 Oktober 2022