Mansian Amasat

Puisi berikut ini berdasarkan Kejadian 2:18-25 Au ‘ait au matak, ‘kius ma upeen Au ‘eik au ‘nimaak, ‘reo’ ma ‘riun Au ‘paek au haek, ‘nao ma ‘noon saa’-saa’ re’ Au ‘moe’ ma ‘pakae nhaken pasan-pasan, biak mabian mes atoni’ naan in nmes’-mees’ Au ‘took ma ‘ruun rais fe’u Au utenab ma ureon “Ka reko fa karu mansian ia nmoni nmes’-mees’ […]

» Read more

24 Jam Via Dolorosa

24 jam Via Dolorosa Jam 6 Senja Perjamuan terakhir Memecah roti, memberikan cawan anggur Tanda tubuh dan darah dari-Nya keheningan penuh tanya di benak para murid.   Jam 9 Malam Getsemani Pergulatan sebagai manusia dan Anak Bapa Seperti biasa, Ia menyepi dan menyendiri Tenggelam amat dalam Ia memohon, “Bapa, biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku…” Ia melanjutkan, “Janganlah apa yang Ku-kehendaki, […]

» Read more

Keheningan Berbisik

Dalam hening hatiku teduh Kala hujan menitik di pagi yang syahdu Tak elak waktu bergulir teratur fajar tiba walau terjepit awan tepis cahaya menghangatkan bumi. Sepasang mata memandang tak berkedip… sesekali kepala terdunduk menyesal di liang dosa tak bertepi. tanpa sadar air mata menetes di pipi … . menari dalam ingatan pengorbanan Sobat Terpuji. Ah,, Jumat Agung datang lagi … […]

» Read more

Jumat Tak Biasa

Hari Jumat pagi ini Hari Jumat yang tak biasa sepi, hening, jernih, tanpa hiruk-pikuk tanpa genderang pasar tanpa deru pikap tanpa derap sepatu tanpa lipstik pemerah bibir tanpa dasi menggantung leher tanpa alunan musik syahdu tanpa kumpulan massa Jumat tak biasa ini ada bunyi dan gema lonceng gereja ada detak jantung berdebar degup ada nadi tetap mengalirkan darah ada mata […]

» Read more

Di manakah Tuhan?

Di manakah Tuhan?     Tuhan… Bolehkah aku bertanya hari ini, Di manakah Dirimu, Tuhan? Ketika dunia hiruk-pikuk dalam kepanikan, Ketika mayapada kacau dalam kegalauan, Ketika virus dan bakteri menebar teror Ketika produksi kata terus bertelor Ketika emosi tak hendak kendor   Tuhan… Bila kutanyakan pada penganut simbolik Mereka akan menunjuk simbol-simbol Binatang berkaki empat, tempat hunian para roh Pepohonan […]

» Read more

Menahan dan Melepas Waktu

Menahan dan Melepas Waktu Waktu, Kau menyapa kami. Waktu, Kau menyalami kami. Waktu, Kau melambai pada kami Waktu, Kau tersenyum ramah pada kaum dan massa. Waktu, Kau menebar kesempatan dan peluang. Waktu, makhluk berakhlak menghitung dan memperhitungkan dirimu. Waktu, makhluk berakhlak menempatkan dirimu dalam satuan-satuan. Waktu, makhluk berakhlak mengumbar janji untuk masa depan. Waktu, makhluk berakhlak mengingkari janji ketika tiba […]

» Read more

Sendunya Gesturmu, Mama!

Sendunya Gesturmu, Mama!   Mama, Membayangkan dirimu ragam kenangan terpatri jelas. Hendak kutengok jejak, semestinya dapat kutelisik. Hendak kuajak bercerita, sayangkan bagaimana mungkin? Hingga berlarut pun aku hanya dapat memandang gesturmu.   Mama, Kenangan penuh dalam genangan masa. Sesamamu menamaimu si ceriwis manis. Sesamamu dongkol berjongkok mendekatkan rasa. Hingga dapat mengayunkan jemari trampil.   Mama, Hari kesukaan para ibu tiba, […]

» Read more

Pasir Putihnya Merdana Ora

Kuayunkan langkah di pasir putih, kurasakan lembut gelitik pasir di kakiku. Kupandangi laut biru, mata seakan berkata kepada kaki tuk mencoba merasakan gelombang laut, mata terus memandang sekeliling laut, deru ombok jelas terdengar oleh telinga, kuayunkan langkah ke bibir pantai, kutatap nun jauh di sana di tangan, kugengam pasir putih lembut, kusyukuri keindahan karya-Mu, Tuhan   By: Merdana Ora  

» Read more
1 2